Fly with your imajination

Sunday, December 21, 2025

Catatan Harian Oyen

🐾🐾🐾

Namaku Oyen.
Aku kucing oren.
Artinya aku gemuk, malas, dan sering dituduh padahal tidak tahu apa-apa.

Siang itu, aku sedang melakukan sesuatu yang sangat penting: tidur setengah sadar di bawah kursi teras. Anginnya enak sekali, matahari juga pas,  perutku juga sudah kenyang dengan sisa ikan asin yang jatuh “tidak sengaja” dari meja dapur.

Hidup sempurna.

Lalu tiba-tiba—

“SEMPAKKU HILANG!!!”

Aku terbangun dengan kaget. Bukan karena peduli, tapi karena volume suara itu bisa membangunkan leluhur-leluhurku dari tujuh generasi.

Semua bulu di badanku tegak berdiri. Siaga. Ekor naik setengah. Kuping tegak. Mata melirik ke kiri dan kanan.

Aku menghela. Aku pikir sudah ketahuan mengambil ikan asin tadi. Lagipula, kenapa manusia ribut lagi, sih? Mengganggu saja.

Tetapi, biasanya kalau manusia ribut itu ada dua kemungkinan:

1. Ada makanan
2. Ada yang hilang dan ujung-ujungnya aku disalahkan

Sayangnya, ini bukan soal makanan.

🐾🐾🐾

Manusia dan Kegemaran Mereka Ribut

Aku melihat Nenek keluar dari rumah. Wajahnya merah, napasnya berat, auranya seperti mau melempar sendal tapi masih mikir siapa targetnya.

Aku reflek waspada. “Ini mode bahaya!”

Aku memutuskan pindah posisi ke halaman samping. Di sana ada Mika, manusia kecil yang hobinya mengejarku padahal aku tidak pernah mengejarnya balik.

“Oyen! Oyen!”

Aku lari zig-zag. Supaya Mika bisa berhenti mengejar. Aku hanya mau tidur, bukan mau main.

Tiba-tiba Nenek muncul lagi.

“Mika!”

Mika berhenti.

“Mika, kamu lihat sempak nenek?”

Aku langsung membeku. Kulihat nenek waspada. Kemungkinan besar aku lagi yang tertuduh.

Tapi, sempak itu apa?

Kenapa benda itu penting sekali sampai manusia teriak siang bolong?

Mika menjawab dengan kalimat paling jujur sedunia, “Oyen aja enggak pakai sempak.”

Oh, ternyata itu sesuatu yang manusia suka pakai.

Untungnya, aku tidak pakai dan aku juga tidak mau pakai. Buluku lebih nyaman.

Tapi entah kenapa, setelah kalimat itu, Nenek menatap ke arahku.

Aku menelan ludah.

Bahaya level dua.

🐾🐾🐾

Jemuran: Pohon Gantung Aneh

Aku sering duduk di dekat jemuran. Bukan karena aku suka pakaian, tapi karena di sana biasanya ada angin, bayangan, dan kadang cicak lengah.

Jemuran hari itu goyang-goyang dari pagi. Angin kencang. Aku ingat betul, karena salah satu kain hampir jatuh dan aku sempat mengira itu musuh.

Aku memukulnya sekali.
Tidak bergerak.
Aku pukul lagi.
Tetap tidak hidup.

Membosankan.

Lalu manusia berkumpul. Ayah, Ibu, Kakak besar yang bau headset, semua duduk serius. Nadanya seperti mau membahas dunia mau kiamat.

“Itu bukan sempak biasa,” kata Nenek.

Aku heran.

Kenapa manusia bisa punya kain keberuntungan, sementara aku hanya punya kardus bekas yang dianggap “sudah jelek, Oyen”?

🐾🐾🐾

Para Manusia Mencurigai Sesamanya

Aku melihat manusia saling menunjuk. Manusia yang bawa gerobak makanan datang lagi. Manusia lain yang sering berkeliling juga datang. Dan ibu-ibu baik yang sering beri aku makan kalau ke rumahnya.

Aku duduk manis, menjilati kaki sendiri, pura-pura tidak tahu apa-apa.

Padahal aku tahu satu hal:

Aku tidak mengambil apa pun.

Tanganku pendek. Aku malas. Dan motif bunga mawar ungu? Tidak cocok dengan buluku.

Aku lebih suka kain bau ikan.

Tapi tetap saja, setiap kali kata “hilang” disebut, manusia melirik ke arahku.

Diskriminasi kucing oren.

🐾🐾🐾

Malam dan Suara Aneh

Malam hari, aku tidur di pojokan. Tiba-tiba aku dengar suara dari atas.

“Krak… krak…”

Aku langsung bangun. Kuping tegak.

“Itu bukan aku,” pikirku. “Aku tidak naik plafon. Aku takut tinggi.”

Tiba-tiba terdengar teriakan Kakak besar. Semua manusia panik.

Aku ikut panik, tapi tetap duduk. Prinsip kucing: panik boleh, lari jangan dulu.

Lalu muncul makhluk kecil berbulu, ekor panjang, bau keju.

TIKUS.

Dia membawa sesuatu.

Kain.

Bunga.

Ungu.

Oh.

Itu benda yang bikin manusia ribut.

Aku langsung paham semuanya.

🐾🐾🐾

Manusia Akhirnya Mengerti (Agak)

“ITU SEMPAKKU!” teriak Nenek.

Tikus lari. Kain jatuh.

Aku mendengus.

Dasar tikus. Bikin repot satu rumah.

Manusia terdiam. Aku bisa merasakan keheningan itu. Sunyi. Berat. Campur bau tikus.

“Astaga,” kata Ayah.

“Pantesan,” kata Ibu.

“Bau keju,” kata Nenek.

Nah, akhirnya manusia pakai hidung juga.

🐾🐾🐾

Keesokan Hari

Jemuran pindah ke belakang rumah. Semua kain dijepit dobel.

Aku mengamati dari jauh.

Aku tidak peduli soal sempak. Tapi aku senang satu hal:

Manusia akhirnya berhenti ribut.

Aku kembali tidur. Dunia kembali seimbang.

Satu hal yang masih aku pikirkan:

Kenapa manusia bisa ribut besar soal kain kecil, sementara waktu aku tidur di keyboard Kakak besar, aku langsung dimarahi?

Manusia memang aneh.

Aku Oyen.
Aku saksi.
Aku tidak bersalah.

MIAW. 🐾

TAMAT.

Share:

Wednesday, December 17, 2025

Bukan Gulali


Judul Cerita : Bukan Gulali
Bahasa Asli: Indonesia
Status: Ongoing
Genre: Romance




♥♥♥

Ringkasan:


Sean terbangun tanpa ingatan, hanya satu hal yang ia yakini—Hana adalah wanita yang ia cintai. Tapi dunia nyatanya tak sesederhana itu. Hana adalah kekasih Regan, kakak laki-lakinya sendiri.

Demi menjaga Sean yang rapuh, Regan dan Hana memilih menyembunyikan kebenaran. Namun ketika semuanya terungkap, luka, kemarahan, dan pengkhianatan menyelimuti hubungan saudara itu.

Di tengah keluarga yang selalu bertengkar, cinta yang terluka, dan rahasia yang terbongkar, Regan dan Hana memilih menikah diam-diam, membangun hidup dari awal. Tapi bisakah cinta bertahan saat masa lalu terus menghantui?

Ini bukan kisah cinta yang manis. Ini kisah tentang memilih, mengalah, dan bertahan—meski pahit.

DAFTAR CHAPTER
Share:

Monday, December 8, 2025

ANAK TOKO - Pengagum Rahasia di Minimarket

Sangat disarankan memberi kritik dan saran.


Main : Tini, Mila, Mulyadi, Agus, Ridho
Rate: T
Genre: Slice of Life
WARNING: AU, OOC, OC, typo, alur GaJe cerita se-mau-gue.
Story by
MICKEY139




SUMMARY :

Kisah para kacung alias anak toko yang ditempatkan di minimarket desa. Desa itu agak sepi, apalagi saat malam. Rata-rata aktivitas di lakukan saat pagi hingga jam delapan malam. Di sana tidak ada hiburan. Jadi, hiburan satu-satu nya anak toko adalah ketika pembeli datang ke toko.

~happy reading~



Hari itu, sekitar pukul 6 sore, Ridho baru saja selesai bekerja dan mampir ke minimarket untuk membeli beberapa bahan masakan. Shift-nya selesai jam 4 sore, tapi dia baru bisa pulang jam 5 setelah berurusan dengan serah terima pekerjaan—yang biasanya lebih ribet daripada rapat perusahaan.

Sambil mendorong keranjang belanja, Ridho memilih bahan masakan. Tiba-tiba, matanya tertuju pada seorang pria yang tampak sangat serius—terlalu serius—memilih mie instan di rak sebelah. Pria itu tampak seperti sedang memilih pasangan hidup, bolak-balik menimbang berbagai merek mie instan, bingung, ragu, dan sesekali menghela napas berat. Ridho hanya mengerutkan kening, merasa ada yang aneh, tapi berpikir, Ya sudah lah, orang bebas mau bingung soal mie instan.

Saat Ridho melangkah ke rak saus sambal, tiba-tiba pria itu menoleh dan... mereka saling bertatapan. Jantung Ridho hampir berhenti sejenak, dan pria itu langsung tersenyum lebar, seakan-akan mereka baru saja bertemu setelah 10 tahun tidak berjumpa, lalu dengan penuh semangat kembali menatap rak mie instan seperti menemukan pencerahan.

Ridho bingung, tapi lanjut belanja. Setibanya di kasir, dia kembali melihat pria itu, kali ini sedang berkutat dengan telur. Dia mengambil satu telur, meletakkannya lagi, lalu mengambil telur lain, kemudian kembali ke telur pertama. Ridho mulai curiga. Ini orang serius banget mikirin telur. Apa dia takut salah pilih telur? Atau dia lagi nyari telur yang bisa bikin omellet paling sempurna?

Dia melirik Mila yang sedang berjaga di kasir dan memberi isyarat halus.

Mila yang sudah paham, mendekati pria itu begitu tidak ada pelanggan lain.

“Ada yang bisa saya bantu, Mas?” tanya Mila dengan ramah.

Pria itu tampak kaget, menoleh, dan dengan sedikit gagap ia menggeleng pelan sambil tersenyum. “Enggak, Mbak. Makasih.”

Mila mengangguk dan berbalik, tapi sebelum dia pergi, pria itu kembali bersuara.

“Anu, Mbak…” katanya dengan nada ragu.

Mila berhenti dan menatapnya. “Ya?”

Pria itu melirik Ridho yang sedang sibuk memilih sambal, kemudian dengan ekspresi malu-malu berkata, “Sebenarnya saya butuh sesuatu, Mbak.”

Mila menatapnya penuh perhatian. “Apa, Mas?”

“Anu… itu, Mas yang di sana…” Pria itu memberi kode dengan mengarahkan pandangannya ke Ridho. “Dia sudah punya pacar, nggak, Mbak?”

Mila terkekeh pelan, “Oh, Mas mau jadi mak comblang?”

Pria itu menggeleng cepat. “Bukan, Mbak... Saya cuma penasaran, dia sudah punya pacar apa belum.”

Mila melirik Ridho yang sedang tampak sibuk menghindari pandangannya. “Ah, kalau gitu, Mas lagi tertarik ya?” tanya Mila dengan nada menggoda.

Pria itu tampak sangat malu dan mengangguk pelan. Matanya berbinar-binar, mulutnya ternganga, dan dengan suara pelan berkata, “Iya, Mbak… Saya suka sama Mas yang di sana.”

Mila hampir tertawa terbahak-bahak. “Serius, Mas? Kamu suka Ridho?”

Pria itu mengangguk dengan percaya diri. “Iya, Mbak. Ridho. Itu namanya.”

Mila melirik Ridho yang saat itu terlihat seperti ingin menghilang ke dalam rak saus sambal. Oh no, pikir Mila, pria ini bisa jadi penguntit mie instan.

“Ooh,” Mila mengangguk, berpura-pura paham. “Sayang banget, Mas, Ridho itu sudah menikah.”

Pria itu tampak kecewa, namun hanya sebentar. Matanya kembali berbinar-binar, dan dengan penuh keyakinan ia berkata, “Tapi kan, Mbak, mereka lagi LDR!” Dia mengatakannya seolah itu adalah alasan yang sangat kuat dan sah.

Mila terdiam. Ada jeda hening yang cukup lama sebelum dia kembali ke kasir, menahan tawa.


πŸ’πŸ’πŸ’
Mickey139

Share:

Wednesday, September 17, 2025

RESTART [3/3]

Sequel SELEEPING BEAUTY
SILAHKAN BACA CERITA SEBELUMNYA RESTART [1/3]

 Sangat dianjurkan memberi saran dan kritik.

Terima kasih 😊.


SUMMARY
"Hanya begini saja?" sekali lagi aku bertanya.
"Memang apa lagi?"
"Tidak ada pendekatan?"
"Kau sudah tahu bagaimana aku kan?"
"Tapi aku tidak berdebar-debar seperti novel yang sering kubaca."
"Jantungku yang mau melompat Sakura."
Oh astaga, inikah kata-kata gombalan milik Uchiha Sasuke?
"Kau mau?"
"Kalau tidak, bagaimana? Apa yang akan kau lakukan?"
"Tentu saja memaksamu."


.
.
.

WARNING
UNTUK ANAK DI BAWAH UMUR DILARANG MENDEKAT, MEMBACA APALAGI MENCONTEKNYA.
DILARANG KERAS MENGKOPI PASTE DAN MEREPOSNYA DI TERMPAT LAIN.



Bagian 3


"Oh ya Sasuke. Apa nanti kita masih akan seperti ini jika aku sudah kembali pada tubuhku? Apa aku masih mengenalmu?"

Apa itu?

Mimpikah?

Tapi, perasaan ini sepertinya pernah kualamai. Dejavu, kah? Dan kenapa mereka tidak terlihat asing? Ah, tentu saja tidak asing, karena mereka itu adalah aku dan si GM pantat ayam, Sasuke Uchiha. Lalu pertanyaannya adalah kenapa aku bisa memimpikan kami berdua? Dan lagi berbicara seperti orang yang sudah dekat lama.

Sasuke tiba-tiba behenti dari kegiatan mengetiknya dan manatap diriku dengan pandangan yang tak bisa ku mengerti. Sejenak dia memejamkan mata sembari menghela nafas lalu menjawab diriku, "Entahlah. Dan kau tidak perlu memikirkan masalah itu. Kau akan mengenalku atau tidak, itu bukanlah masalah penting untuk saat ini. Lebih baik kau cari tahu dulu mengapa tubuh dan rohmu tiba-tiba terpisah. Itu akan lebih membantu."

Beberapa detik berlalu, diriku dalam mimpiku itu terlihat terdiam sebelum menyahut. Aku tidak tahu apa yang sebelumnya diriku pikirkan, tapi, perasaan diriku itu begitu nyata kurasa. Rasanya begitu menyakitkan, sama seperti saat tahu jika ada seseorang yang selalu bersamamu ternyata tak menginginkan dirimu.

Lalu mimpiku beralih, pada kejadian lain, tempat dan waktu yang berbeda. Sebuah Gang gelap dengan penerangan lampu jalan dan gedung-gedung kecil yang temaram.

Di sana, aku melihat seorang gadis. Aku tidak mengenalnya, bahkan bertemu pun tidak pernah. Dia terlihat ketakutan karena dikelilingi tiga orang pria dewasa. Mereka semua tampak berantakan dan menakutkan. Baik wajah dan penampilan mereka seperti preman pasar yang biasa memalak kaum lemah, kurasa mereka ingin berbuat jahat pada gadis itu.

Dan sesuai dugaanku, mereka mengepung gadis itu. Meminta sesuatu darinya lalu merampas tas yang gadis itu pakai. Gadis itu menangis, ketakutan sangat jelas terlihat dari rautnya. Aku ingin menolongnya. Sayangnya itu tidak bisa. Langkahku terasa berat, kaku dan terpaku pada tanah. Kakiku tidak bisa melangkah, barang seinci pun.

"TOLONG... hiks... ku mohon tolong aku." Gadis itu berteriak. Aku benar-benar tidak sanggup melihat mereka. Membayangkannya saja, aku tidak bisa. Tuhan, tolong bantu gadis itu. Kumohon.

"Tidak akan─"

BUGH.

Dan doaku, akhirnya dikabulkan. Aku lega. Benar-benar lega. Akhirnya ada juga orang yang datang untuk menyelematkan gadis itu.

Tapi, kenapa rasanya aku mengenal lelaki dan perempuan yang baru saja datang itu?

Lalu perasaan dejavu kembali lagi kurasa. Suasana seperti itu, kondisi dan tekanan, semuanya seperti pernah kurasakan. Tapi itu jelas-jelas tidak pernah kualami.

Sebenarnya apa arti ini semua? Mimpi ini?

Kenapa aku diberikan mimpi seperti ini?

"Brengsek... Akan ku bunuh kalian."

Suara itu, memang dirinya, dia adalah sang GM, Sasuke Uchiha dan aku memang mengenal dia. Dan perempuan yang berlari di sisinya juga sangat kukenal. Dia adalah... diriku sendiri?

Kenapa aku mempikan kami berdua seperti ini? Apa aku dan dia memang saling mengenal? Tapi, aku yakin selama aku hidup, aku bahkan baru bertemu dengannya ketika interview beberapa minggu lalu.

"Sakura...?"

Suara Sasuke kembali masuk ke gendang telingaku. Samar dan penuh kekhawatiran. Sepertinya mimpiku akan beralih ke kejadian yang lain.

"Sakura..."

Tapi aku tidak melihat di mana dia.

"Sakura..."

sumber gambar : pinterest

...

Silau yang pertama kali kulihat membuat mataku sedikit perih. Entah aku berada di mana sekarang.

"Kau sudah bangun?"

Deg.

Ada apa dengan jantungku?

Aku memalingkan wajah melihat orang yang sudah memanggil namaku. Dia adalah Sasuke.

Orang yang membuat tiga mingguku sukses berantakan. Biang dari semua penderitaanku.

"Aku di mana?"

"Di apartemenku." Sasuke memberiku air mineral dan membantuku untuk meminumnya. "Bagaimana perasaanmu sekarang? Kau baik-baik saja?"

Tiba-tiba beberapa bayangan merasuk ke dalam kepala. Seperti mimpi yang tadi kualami.

"Sakura?"

Seperti potongan puzzle yang dirangkai menjadi satu, saling melengkapi, mengisi kekosongan dan menghasilkan satu perasaan aneh yang selalu kurasa, namun selalu kuingkari.

Rindu.

Yah, aku rindu. Tapi tidak tahu untuk siapa.

"Sakura?"

Tiba-tiba air mataku jatuh ketika berbagai perasaan mulai campur aduk. Ketika semua ingatan itu kembali memenuhi kepalaku.

"Kau tidak apa-apa? Aku..."

Dan secara refleks aku menariknya ke dalam pelukanku. Yah, aku mengerti sekarang. Perasaan yang selalu kututupi itu adalah untuknya. Rindu yang selalu kusangkal memang untuknya. Aku memang mengenalnya. Dan aku sangat merindukannya.

"Sasuke..."

"Ada apa─"

"Sasuke..."

"Aku di sini Sakura. Maafkan aku, ka─"

"Aku merindukanmu."

"Hm... Apa─"

"Aku sangat merindukanmu. Sangat merindukanmu."

"Kau mengingatnya?" tanyanya ragu.

Aku mengangguk, "Aku ingat. Maafkan aku. Aku rindu. sangat rindu."

"Hm..." lalu dia balik memelukku.

FIN


sumber gambar : pinterest

A/N : Iya tahu kok, ini Ga-je. Ngerti kok. Kan saya orangnya memang gaje, jadi tulisan ikut-ikutan Gaje. Hahaha...

Btw, thanks buat kalian yang masih mau membaca cerita saya, padahal saya hiatus sudah sangat— amat sangat lama, bahkan beberapa cerita saya sudah saya anggurkan. Maaf, nanti saya lanjut. Itu bukan janji, tetapi kewajiban. *cie...cie...cie...*

Oh, ya saya hiatus bukan tanpa alasan yah. Jaringan di tempatku jelek, warnet juga sudah tutup, ganti kartu SIM lain mahal, jadi tunggu sampai keluar lorong baru bisa dapat jaringan yang bagus. Saya juga hiatus di FFN karena mengurus cerita di waty (baca ; wattpad) *kalau mau baca ceritaku di sana silahkan klik ini Mickey139 atau cari dengan id yang sama Mickey139. Cerita sleeping beauty kubuat per part nya, jadi original dan lebih lengkap.

Dan sudah yah. Hahaha *apaan sih tambah gaje aja. hehehe... LANJUT


~OMAKE~


"Jadi, kenapa kau selalu mengusiliku dengan menyuruhku melakukan pekerjaan house keeper?" tanyaku saat pelukan dan tangisan sudah reda.

Kini kami sedang duduk di atas ranjang sambil menikmati sisa malam yang sebentar lagi akan menghilang ditelan cahaya mentari.

"Kalau tidak begitu, aku tidak yakin bisa melihatmu tiap hari." sahutnya ringan.

Heh, apa ini cara pendekatan seorang Uchiha?

Anti-mainstream sekali.

Tapi, kok bikin kesal, yah?

Aku bersungut, mendongak lalu mencibir, "Kau bisa menyuruhku datang ke ruanganmu saja kan, membawa laporan harian misalnya tanpa harus ada embel-embel yang lain.."

"Dan melewatkan wajah kesalmu. Itu tidak menyenangkan, Sakura." sahutnya sambil mengelus rambutku. Ia terkekeh dan menatapku lembut, tidak seperti yang biasa ia tunjukkan kalau di kantor.

Heh, benarkan dia hanya ingin mengerjaiku. Sialan.

"Aku pikir kau marah padaku karena sudah mendorongmu sampai terjatuh."

"Aku bahkan tidak memikirkannya lagi."

Aku bangkit dari sandaran ranjang dan berpaling menatapnya, "Lalu apa yang kita lakukan sekarang?"

Dia juga ikut bangkit. "Kau mau menikah denganku?"

Eh?!

Mataku sedikit terbelalak kala kata-kata itu terlontar mulus dari bibirnya. Dia melamarku?

"Iya, kita nikah." katanya sekali lagi.

"Serius?" tanyaku memastikan.

"Aku serius."

Ya ampun. Cara melamarnya kenapa biasa sekali? Padahal ingatanku kan baru muncul. Lagipula mana cincinnya?

"Hanya begini saja?" sekali lagi aku bertanya.

"Memang apa lagi?"

"Tidak ada pendekatan?"

"Kau sudah tahu bagaimana aku kan?"

"Tapi aku tidak berdebar-debar seperti novel yang sering kubaca."

"Jantungku yang mau melompat Sakura."

Oh astaga, inikah kata-kata gombalan milik Uchiha Sasuke?

"Kau mau?" tanyanya lagi.

"Kalau tidak, bagaimana? Apa yang akan kau lakukan?"

"Tentu saja memaksamu."

Aku tertawa.

Yah Sasuke Uchiha dan sifat kerasnya. Apalagi?

sumber gambar : pinterest


TAMAT
Mickey139


Share:

Thursday, August 7, 2025

RESTART [2/3]

Sequel SELEEPING BEAUTY
SILAHKAN BACA CERITA SEBELUMNYA RESTART [1/3]

 Sangat dianjurkan memberi saran dan kritik.

Terima kasih 😊.


SUMMARY
"Hanya begini saja?" sekali lagi aku bertanya.
"Memang apa lagi?"
"Tidak ada pendekatan?"
"Kau sudah tahu bagaimana aku kan?"
"Tapi aku tidak berdebar-debar seperti novel yang sering kubaca."
"Jantungku yang mau melompat Sakura."
Oh astaga, inikah kata-kata gombalan milik Uchiha Sasuke?
"Kau mau?"
"Kalau tidak, bagaimana? Apa yang akan kau lakukan?"
"Tentu saja memaksamu."


.
.
.

WARNING
UNTUK ANAK DI BAWAH UMUR DILARANG MENDEKAT, MEMBACA APALAGI MENCONTEKNYA.
DILARANG KERAS MENGKOPI PASTE DAN MEREPOSNYA DI TERMPAT LAIN.



Bagian 2


Ah, hari yang benar-benar melelahkan.

Baru tiga minggu aku bekerja di hotel ini, namun rasanya masih seminggu. Perlakuan GM padaku masih belum berubah. Bukannya disuruh mengerjakan pekerjaanku, aku malah dikerjai dan menjadi HK pribadinya. Kenapa tidak sekalian aku disuruh jadi babunya?

Arrrggghhhh... Aku benar-benar kesal dengan GM itu. Sasuke- pantat ayam- Uchiha.

Aku masih ingat, bahkan kejadian itu masih tertancap dalam benak hingga rasanya tidak akan bisa dicabut apalagi dibuang. Hari pertama bertemu, ia langsung memelukku, mengatakan sesuatu yang terlalu absurd buat ditelaah otakku. Katanya, ia merindukanku. Hell, yang benar saja? Mana pernah aku mengenalnya, bertemu saja baru kali itu.

Dan selanjutnya, tubuhku refleks melakukan gerakan pertahanan diri, yaitu mendorongnya sampai ia terjatuh─ dengan sangat tidak elit, tentu saja (sampai-sampai aku tak bisa menahan tawa, bahkan sekertarisnya juga yang tidak sengaja masuk untuk menyerahkan laporan tertawa tertahan).

Siapa yang tidak kaget kalau tiba-tiba saja seseorang yang tak kau kenal memelukmu? Tidak ada. Membiarkannya? Apalagi. Biar kata ia tampan, salah satu lelaki idaman, pemilik posisi penting dalam perusahaan tepatku melamar kerja, bahkan pemilik feromon yang memikat para wanita, tetap saja itu adalah tindakan kriminal. Aku tidak salah, kan?

Akan tetapi, sayangnya, istilah hukum alam sangat berlaku dalam perusahaan ini. Atasan selalu benar, tidak ada yang bisa membantahnya. Dan aku sebagai calon karyawan baru tidak dapat berbuat apa-apa selain menerima konsekuensi dari apa yang sudah kulakukan.

Malangnya nasib anakmu ini, Mah.

"Mau sampai kapan kau melamun, anak baru?"

Aku menghela nafas, bersyukur bukan teguran dari atasan atau perintah yang kudapatkan, tapi dari Ino, cewek manis ala Barbie sekaligus tetangga kubikelku. Ia berdiri sambil bertumpu tangan pada sekat pembatas antar kubikel kami.

"Aku tidak melamun, Ino. Aku sedang istirahat. Aku capek..." keluhku. Dahiku kubenturkan di atas meja kerja lalu memejamkan mata. "Aku tidak sanggup. Aku mau resign."

"Heh!? Yakin?" dia mengejek, tahu kalau tidak ada kesungguhan dalam ucapanku.

Aku menggeleng. "Tapi ingin."

Ino berdecih, "Tapi tidak sanggup."

Dan aku hanya bisa merutuki diri sendiri karena ucapan Ino yang benar. Aku memang tidak sanggup melakukannya. Sudah cukup, aku merasakan jadi seorang pengangguran selama hampir tiga tahun. Mendengar omelan orang tua tiap hari, diremehkan oleh letting karena tidak bisa menghasilkan apa-apa, juga rasa iri pada mereka yang sudah sukses di usia muda. Tidak lagi.

Cari lowongan kerja di kota sekeras ini benar-benar butuh perjuangan yang luar biasa. Aku sudah merasakan bagaimana terik menggosongkan kulitku, setor berkas ke berbagai perusahaan (yang entah dibuat apa sekarang berkas yang sudah kukumpulkan), dan ketika sudah mendapatkan kerja dengan gaji yang bagus, aku mau keluar begitu saja hanya karena GM yang menyebalkan? Tidak akan.

"Ya. Tidak sanggup..." sahutku lemas, masih dengan kepala yang tertumpu pada meja. "Tapi, aku benar-benar tidak tahan dengan pantat ayam itu. Laki-laki diktator itu selalu saja menyuruhku melakukan apa yang ia mau dan membuatku menelantarkan pekerjaanku. Lalu ketika jam kerjaku akan berakhir, dia baru membiarkanku mengerjakan pekerjaanku. Dia adalah iblis."

"Yah," Ino menggaruk tengkuknya, bingung, "Aku juga heran sih sebenarnya. Kenapa malah kau yang diperlakukan seperti itu oleh GM. Aku dan anak-anak senior lainnya, tenang-tenang saja waktu baru masuk, paling kami dikerjai oleh senior yang duluan masuk. Itu pun tidak semelelahkan sepertimu, Sakura. Malah pak Uchiha juga tidak pernah menghiraukan kicauan karyawan wanita lain." Ino berhenti sejenak lalu memandangku curiga. Matanya memicing dan menatapku intens, seolah aku adalah tertuduh yang tak bisa kabur dari dakwaan, "Apa kau sudah berbuat sesuatu padanya?" Nada curiga tak bisa ia sembunyikan dari kalimatnya.

Aku menghela nafas pelan. Iya mungkin, sahutku dalam hati. Tapi, masa gara-gara itu? Aku tidak yakin. Aku melirik Ino yang masih menatapku curiga. Aku ingin memberitahu kejadian awal kami bertemu, tapi, itu juga tidak mungkin. Mulut Ino seperti selang bocor, bisa-bisa besok muncul gosip yang aneh-aneh. Lagipula aku tidak mau jadi korban bully karyawan penggila Mr. Uchiha-pantat ayam- Sasuke.

"Entahlah."

Suara helaan nafas Ino terdengar di telingaku, "Lalu kenapa malah memperlakukanmu seperti house keeper? Eh, tidak. House keeper saja tidak diperlakukan seperti itu oleh pak Uchiha."

"Tidak tahu." wajahku semakin kubenamkan pada meja. "Menurutmu, apa yang sudah kulakukan padanya?" tanyaku dan berpaling menatapnya.

Tapi, Ino tidak menjawab. Ia terdiam beberapa detik sebelum secara tiba-tiba rautnya berubah, seperti padang tandus yang diguyur hujan, memekarkan bunga-bunga yang ada di sana. Binar bahagia jelas tercetak di wajahnya.

Aku bangkit dan menegakkan tubuh, melihatnya seperti itu, rasa tidak enak langsung menyerangku. "Kau kenapa?"

Ino tersenyum tidak jelas, "Apa jangan-jangan dia menyukaimu, ka─"

"Tidak." potongku cepat.

Yah, Ino dan otaknya, selalu saja menarik kesimpulan sendiri. Dan itu benar-benar membuatku jengkel. Seperti ia seorang psikolog saja bisa membaca seseorang lalu menyimpulkannya. Padahal otaknya juga kadang bergeser.

"Eh?!"

"Dan jangan berpikir macam-macam. Dia tidak menyukaiku, titik."

"Ta─"

"Kau sendiri tahu bagaimana sikapnya padaku, mana ada laki-laki yang menyukai perempuan dan memperlakukannya seperti itu? Tidak ada. Pendekatan macam apa itu?"

"Lalu kenapa? Memang kau pernah berbuat salah padanya?"

"Mana kutahu, Ino. Aku sudah bilang padamu kan tadi. Pantat ayam itu, memang hanya ingin menyiksaku."

"Tapi pasti ada alasannya. Kau pasti sudah melakukan kesalahan. Mengakulah."

Aku menatapnya tidak suka. "Kalau aku salah, ia seharusnya memberiku SP atau tidak menerimaku sekalian, tapi kenapa malah menyiksaku seperti ini?"

Ino angkat bahu, "Entahlah. Hanya kau, dia dan Tuhan yang tahu."

"Ralat. Hanya dia dan Tuhan yang tahu."

Ino mendesah, "Hanya orang jahat yang seperti itu."

"Ya, dia salah satunya."

Ino memandangku, "Kau sungguh membencinya karena ini, Sakura?" aku mengangguk. "Ya."

"Sungguh?"

"Iya."

"Kau yakin?"

"Astaga Ino. Kau membuatku tambah pusing, kau tahu. Memang, apalagi yang harus kurasakan padanya selain kesal dan jengkel juga benci? Suka? Itu tidak mungkin. Sudahlah."

"Yah, baiklah. Itu urusanmu sajalah. Lagipula benci dan cinta itu hanya dipisahkan oleh sekat yang tipis, asal rusak sedikit yah pasti jadi cinta."

Aku menggeram tertahan. Jengkel dan dongkolku semakin bertambah karena mulut Ino. Aku jadi berpikir, kenapa aku bisa punya teman seperti dia? Apa dia menyantetku? Atau aku yang khilaf?

"Ya... Ya... aku tidak akan mengganggumu lagi. Lanjutkan kerjamu. Sebentar lagi jam kantor usai, kau tidak ingin lembur, kan?"

Aku menghela nafas lemas, "Biar tidak mau lembur, tetap saja aku akan lembur."

"Yah... hm... ah, aku bingung. Sudahlah. Aku tidak tahu kata-kata motivasi yang bisa membuatmu semangat, cepat selesaikan pekerjaanmu, kalau ti─"

Aku memandang Ino nanar, air mataku serasa ingin keluar.

Ino mendengus kasar, "Jangan memandangku seperti itu, Sakura. Aku juga tidak bisa membantumu. Aku juga capek."

"Jahat. Padahal kita ini kan sahabat sejak kecil."

"Yah, itu kalau di luar kantor. Maaf-maaf saja Sakura, aku juga takut pada GM─ walaupun aku mengagumi tubuh dan ketampanannya, tapi kalau marah─ uh... lebih baik aku mundur. Aku tidak berani"

Ino sialan. Apa salahnya dia membantuku, toh dia tidak akan diapa-apakan oleh Sasuke.

"Kau berubah."

"Ini realistis, Say. Kalau keadaannya seperti ini, aku juga lebih baik menyelamatkan diri."

"Egois."

Ino angkat bahu, "Setidaknya aku tidak suka mengurusi urusan orang lain, bukan."

"Tapi kepo."

"Itu manusiawi."

Kenapa Ino selalu punya kata-kata untuk melawanku sih. Aku jadi tambah dongkol.

Ini semua karena Sasuke sialan.

Dasar, psikopat, sialan, sialan, sialan. Aku terus memakinya dalam hati.

Tapi tampan.

Sialan. Setan mana yang menginterupsi kekesalanku.

Kuhempaskan tubuh untuk bersandar di kursi. Kembali meneliti angka-angka yang ada di layar komputer.

Ah, berapa lama lagi aku harus di sini? Aku jadi rindu pada ranjang dan bantalku. Novel yang kemarin baru kubeli juga. Mereka pasti sangat merindukanku sekarang.

"Aku sudah selesai."

Eh?! Cepat sekali.

"Ino─"

"Aku duluan, yah Sakura. Pacarku sudah menungguku di bawah. Bye..." Ino tiba-tiba memotong ucapanku sebelum benar-benar selesai kulontarkan, aku bertambah lemas.

Aku mengangguk lesu sebagai jawaban. "Hah..."

Dan sekarang sisa aku yang berada di ruang ini, dengan laporan yang masih tersisa dua pertiganya.

Arrrgghhhh, ini semua gara-gara Uchiha Sasuke menyebalkan itu. Seharian ini, bukannya ia membiarkanku menginput laporan, ia malah menyuruhku melakukan tugas yang seharusnya dikerjakan oleh house keeper atau sekertarisnya.

Untung saja aku pengagum pria tampan, kalau tidak sudah kulempar wajahnya itu dengan sendalku dari dulu.

Hah, sampai kapan penderitaanku ini berakhir, Tuhan?

Pengangguran atau perintah rese GM, benar-benar tidak ada yang menyenangkan.

Hampir tiga jam aku selesai menginput laporan, dan sekarang langit sudah gelap bahkan gemuruh dari amarah langit sudah keluar. Tinggal menunggu beberapa menit lagi, sampai awan menjatuhkan titik-titik airnya.

"Selamat malam, bu Sakura?"

Salah seorang house keeper menyapaku. Dia adalah pak Asuma, karyawan senior di sini. Sudah hampir lima tahun bekerja hingga akhirnya diangkat jadi captaint haouse keeper. Lama, kan? Itupun juga dilihat dari kinerja kerjanya yang baik. Ini juga yang sebenarnya menjadi alasanku tidak mau keluar dari perusahaan ini. Banyak orang yang tidak bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudah, naik pangkat dengan cepat, atau gaji yang memuaskan, tapi mereka tetap berusaha supaya tidak menjadi pengangguran. Jadi, kalau aku keluar, belum tentu aku akan mendapat pekerjaan baik seperti ini. Dan lagi, tidak memungkinkan predikat pengangguran abadi akan kudapatkan kembali.

Aku balas tersenyum, "Malam juga, pak Asuma." Meski pangkatku lebih tinggi dibanding dia, tapi tetap saja aku masih junior di perusahaan ini. Lagipula ia juga lebih tua dariku, "Oh ya, Pak. Bagaimana keadaan Mirai, sekarang? Kudengar kemarin ia demam?" tanyaku basa basi.

"Sudah lebih baik. Terima kasih, bu Sakura." sahutnya tak kalah sopan.

Aku mengangguk pelan. "Syukurlah. Maaf ya Pak, kemarin saya tidak sempat pergi, kerjaan benar-benar menumpuk." dan permintaan GM yang memuakkan, lanjutku dalam hati.

"Iya, tidak apa. Saya mengerti, kok. Ibu juga masih baru di sini, pastinya belum terbiasa dengan pekerjaannya."

Aku tersenyum, "Iya, Pak." Apalagi dengan kerjaan tak bermutu dari GM, cibirku dalam hati. Lagi. "Ah, kalau begitu saya permisi ya Pak. Sudah malam, takut busnya pergi duluan. Lagipula cuacanya sedang mendung."

"Ah, iya... iya... hati-hati di jalan yah bu Sakura." balasnya.

Satu lagi yang membuatku urung memberikan surat resign pada HRD, meski GM-nya kelewat menyebalkan, tetapi kebanyakan karyawan di sini ramah hingga membuatku betah. Sangat sulit mendapatkan tempat kerja dengan karyawan ramah seperti mereka.

Tiba di halaman depan hotel, kesialanku bertambah. Rupanya langit tidak mau berkompromi dengan keadaanku dan menurunkan titik-titik air dengan deras.

Aku mulai bimbang, tidak mungkin menunggu hujannya reda. Bus tidak akan mau menunggu. Tapi, kalau diterobos, kemungkinan aku akan sakit besok. Aishh, ini semua gara-gara pantat ayam itu.

"Kau sendiri?"

Aku berpaling manatap pemilik suara yang tiba-tiba menerobos gendang telingaku. Panjang sekali umurnya, diumpat dalam hati, langsung muncul.

"Iya, Pak. Saya sendiri." dan ini semua gara-gara kau brengsek.

"Kau mau kuantar?"

Eh? Serius? Tumben baik, biasanya cuma menyusahkan.

Tapi,

Tetap saja harga diri itu lebih penting. Laki-laki ini sudah membuatku kesusahan, masa iya diberi tumpangan langsung ikut? Murahan sekali aku kalau begitu.

"Terima kasih, Pak. Tapi, tidak usah. Saya tunggu hujan ini sampai reda saja."

Laki-laki itu menatap ke depan dan langit yang ditutupi awan hitam tanpa bintang.

"Kau yakin?" tanyanya ragu.

Dan aku juga mengangguk. Meski ragu, sebenarnya, "Yakin, Pak."

"Ya, sudah kalau begitu, aku duluan."

What? Hanya begitu saja? Tanpa ada tawaran kedua kali? Laki-laki ini memang batu alias tanpa perasaan.

"Iya, Pak. Hati-hati di jalan."

Dan ia pun pergi. Hilang di balik pintu kemudi mobilnya yang baru saja diantarkan oleh petugas valet hotel.

Sementara aku, masih berdiri di depan hotel dan berpikir. Kapan hujannya reda? Kapan aku bisa pulang? Kapan aku bertemu kamarku? Dan kapan aku bisa menikmati ramyon bungkus yang kemarin kubeli sambil membaca novel baruku? Pasti lama.

Akhirnya, setelah berpikir beberapa detik dengan terpaksa aku memilih menerobos. Dari pada tidak pulang lebih baik aku sakit, setidaknya aku mempunyai alasan untuk tidak masuk kerja besok dan mungkin saja GM itu bisa intropeksi diri dan berubah. Tidak lagi berbuat semena-mena pada karyawan lemah lembut sepertiku.

Rasa dingin perlahan mulai menjalari tubuh ketika tetes air hujan satu per satu membasahi tubuhku. Tas yang kugunakan sebagai pelindung, sama sekali tidak membantu. Angin yang berhembus kencang, juga derasnya air hujan yang turun, sedikit memburamkan penglihatan dan membuatku sulit berlari. Dan gara-gara itu pulalah, kesialanku bertambah. Aku tersandung batu, lalu terjatuh di aspal. Sungguh memalukan sekaligus menyedihkan.

Aku benar-benar ingin mengutuk GM pantat ayam itu menjadi pantat ayam sungguhan. Gara-gara dia, keadaanku jadi menyedihkan begini. Bisa kalian bayangkan sendiri, bagaimana keadaanku. Di tengah hujan deras, aku terjerembab pada kubangan air hujan yang kotor, seluruh pakaianku basah, kaki terkilir dengan rasa perih yang menyengat plus mendapat predikat sebagai manusia paling menyedihkan dan tidak ada orang yang bisa dimintai pertolongan.

Oh Tuhan, kenapa nasibku malang seperti ini? Kenapa bisa aku bertemu dengan manusia kejam seperti dirinya? Dan kenapa dia diciptakan dengan wajah malaikat yang membuatku tidak bisa menendang wajahnya?

Aku benar-benar tidak tahan dengan ini semua.

Tin.

Eh?

Suara klakson mobil mengalihkan perhatianku. Tapi, aku tidak bisa bergerak pun bangkit untuk menghindar. Tubuhku terlalu lelah, kakiku juga sudah kebas ditambah dengan rasa menyengat yang perih pada pergelangan kakiku karena terjatuh.

Tuhan, bukan ini maksudku? Aku hanya tidak tahan pada sikap laki-laki itu dan bukan pada nasibku. Aku tidak ingin hidupku berakhir seperti ini dan pada waktu ini. Aku tidak ingin masuk koran dengan judul, wanita paling menyedihkan ditabrak lari.

Akan tetapi, sepertinya doaku tidak akan dikabulkan kali ini. Aku benar-benar tidak bertenaga untuk bergerak, dan lagi pandanganku mulai memburam. Dan tahu-tahu, tiba-tiba semuanya jadi gelap. Tubuhku luruh di aspal. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada diriku selanjutnya.


...
Mickey139


Share:

Sunday, July 27, 2025

THE MERMAID - ENAM

 Sangat dianjurkan memberi saran dan kritik.

Terima kasih 😊.

SEBELUMNYA CH LENGKAP



THE MERMAID
WARNING: AU, OOC, OC (sedikit) typo (mungkin banyak), alur GaJe, (masih perlu banyak belajar)
@mickey139

Mohon maaf jika ada kesamaan ide cerita

DLDR

enjoy :)


🧜🏻‍♀️🧜🏻‍♀️🧜🏻‍♀️

Gelap.

Mac merasa seperti tenggelam dalam kegelapan yang tak berujung, tubuhnya terasa ringan, hampir seperti mengapung tanpa berat. Suara ombak yang biasanya terdengar begitu jelas, kini hanya berdesir samar di telinga, seperti datang dari kejauhan.

Tapi kemudian, ada sesuatu yang menariknya ke permukaan. Sesuatu yang hangat. Perlahan, ia merasakan sentuhan air di wajahnya. Suara-suara kembali memudar dan akhirnya menggantikan kekosongan dengan bisikan lembut.

"Mac…"

Suara itu. Adrea. Suara yang selalu terdengar begitu tajam, kini terdengar begitu dekat, hampir seperti sebuah pelukan di tengah gelap.

Mac merasakan tubuhnya diguncang pelan. Ia membuka mata dengan susah payah. Sekelilingnya samar, namun ia bisa melihat bayangan Adrea yang menggantung di atasnya, wajahnya tegang dan penuh rasa cemas.

"Adrea?" suara Mac serak, hampir seperti berbisik, tapi ia tahu Adrea mendengarnya.

"Mac…" Adrea menarik napas panjang. "Kau hampir mati, idiot. Apa yang kau pikirkan? Kenapa kau memaksakan diri?"

Mac hanya tersenyum tipis, matanya masih setengah terpejam. "Aku tidak mau kehilangan satu-satunya kesempatanku untuk kembali."

Adrea menggelengkan kepala. "Kalau kau mati, kau tidak akan kembali."

Mac menahan tawa, meskipun tubuhnya terasa seperti hancur. "Aku tahu. Tapi, aku masih hidup."

Adrea mengangkatnya perlahan, meletakkan tubuh Mac di atas sebuah batu karang besar yang muncul dari permukaan laut. Cahaya samar mulai meresap dari atas, menunjukkan bahwa mereka sudah berada di zona yang lebih dangkal.

"Ya, kalau begitu, jangan harap aku akan menyelamatkanmu lagi," jawab Adrea dengan nada menggoda, meski Mac bisa melihat kegelisahan di matanya.

Mac memejamkan mata, mencoba mengatur pernapasannya. Tubuhnya nyaris kosong dari mana—ia tahu bahwa sihir yang ia gunakan tadi sangat membebani tubuhnya. Bahkan sekarang, energi sihir yang tersisa terasa seperti sebuah nyala api kecil yang hampir padam.

"Apa… bagaimana dengan Seleris?" tanya Mac dengan suara yang hampir tak terdengar.

Adrea mengangguk. "Aku sudah pastikan, makhluk itu takkan bangun lagi dalam waktu dekat." Ia mengeluarkan benda kecil berkilau dari kantungnya. Sebuah sisik besar yang berwarna perak kemerahan. "Ini, hadiah untuk kerja sama kita."

Mac menatapnya lemah, lalu tersenyum dengan penuh rasa syukur. "Aku… senang… kita berhasil."

Adrea mendekatkan dirinya, menatap Mac dengan serius. "Kau tak akan bisa lagi bertarung dalam keadaan seperti ini. Kita harus beristirahat di sini sampai keadaanmu pulih."

Mac hanya mengangguk lemah. Namun, di dalam hatinya, ia merasa sebuah perasaan yang berbeda. Ada sesuatu yang lebih dari sekadar keberhasilan dalam misi mereka. Meskipun ia hampir mati, dan meskipun tubuhnya hancur, perasaan yang paling kuat yang ia rasakan adalah…

Kepercayaan.

Kepercayaan bahwa, dalam dunia yang kejam ini, mereka masih punya satu sama lain.

"Adrea…" bisik Mac, matanya mulai terpejam lagi. "Terima kasih…"

Adrea menatapnya, lalu menepuk lembut kepala Mac. "Kita masih punya banyak perjalanan, Mac. Istirahatlah."

"Baiklah," jawab Mac dengan pelan, "aku ... akan tidur sebentar."

Adrea tertawa kecil, namun suara tawa itu terdengar begitu nyata dan hangat di telinga Mac.

Mereka berada di desa Ko'tren sekarang, dan meskipun badai sebelumnya telah berlalu, mereka tahu perjalanan mereka masih panjang. Tapi untuk saat ini, di kedalaman lautan yang luas dan misterius, mereka bisa beristirahat sejenak, bersandar satu sama lain dalam keheningan yang nyaman.

🧜🏻‍♀️🧜🏻‍♀️🧜🏻‍♀️

Air asin masih melekat di kulit Mac saat ia perlahan terbangun di dalam sebuah ruangan yang asing. Atap dari kulit kerang besar dan dinding-dinding batu karang berkilau samar oleh cahaya bioluminesen. Udara lembap dan dingin, tapi terasa aman. Aroma laut begitu kental, namun tak sepekat bau darah dan debu sihir yang menempel dalam ingatannya.

“Dia bangun.”

Suara berat itu datang dari sudut ruangan. Seorang pria bertubuh besar dengan kulit bersisik kemerahan, mengenakan mantel dari sisik-sisik ikan langka, melangkah mendekat. Matanya, sepasang mutiara hitam pekat, menatap Mac dengan rasa ingin tahu.

“Mac, ini Kepala Suku Ko’tren. Kau aman sekarang,” kata Adrea, berdiri di sisi tempat tidur dari anyaman rumput laut kering. Rambutnya masih basah, dan ada bekas luka memanjang di pipinya. Tapi matanya tampak lebih tenang daripada sebelumnya.

Mac mencoba duduk, tapi rasa nyeri menghantam tulangnya seperti palu. Ia meringis.

“Jangan paksakan dirimu,” tegur Adrea cepat. “Tubuhmu belum pulih. Dua hari kau tak sadarkan diri.”

“Dua… hari?” Mac mencoba mengingat kembali, tapi semuanya terasa kabur. Hanya kilatan cahaya, suara raungan Seleris, dan wajah Adrea yang bersimbah air laut dan darah yang tersisa.

Ko’tren menatap mereka bergantian. “Kau menggunakan Mana Dalam. Itu bukan sihir yang bisa digunakan sembarangan. Kami telah menenangkan energi itu dalam tubuhmu, tapi efeknya tidak bisa dihapus begitu saja.”

“Mana Dalam…” Mac memutar kepalanya perlahan, menatap tangan kanannya. Ada urat gelap samar seperti luka bakar yang belum sembuh, membelit pergelangan hingga ke siku.

“Kalau kau menggunakannya lagi… bisa-bisa tubuhmu retak dari dalam,” lanjut Ko’tren. “Bahkan tanpa ada musuh yang menyentuhmu.”

Adrea diam. Ia sudah tahu itu. Ia menyaksikan tubuh Mac kejang, darah keluar dari hidung dan telinganya, saat sihir itu meluap. Ia menyesal tidak menghentikan Mac lebih awal. Tapi di saat itu, hanya Mac yang bisa menahan Seleris cukup lama untuk menyelamatkan mereka semua.

Mac menarik napas dalam-dalam. “Aku tak menyesalinya.”

Adrea memalingkan wajah, menahan sesuatu yang tidak ingin ditunjukkan di depan kepala suku.

“Karena kalau aku tak lakukan itu,” lanjut Mac, “kau yang akan terluka. Dan aku… tak bisa menerima itu.”

Sunyi sejenak.

Ko’tren mengangguk perlahan. “Kau bodoh. Tapi keberanian seperti itu… langka di zaman ini.”

Ia berdiri dan berjalan keluar, meninggalkan mereka berdua dalam keheningan lembut. Adrea duduk di samping Mac, menatapnya lama.

“Kalau aku tahu, aku mungkin akan menghentikanmu.”

“Dan membiarkan kau dirobek Seleris? Tidak.” Mac tersenyum samar. “Kau adalah kesempatanku. Satu-satunya harapanku agaraku bisa kembali ke lautan.”

Adrea tak menjawab. Ia hanya menatap Mac. Tahu bahwa laki-laki itu tengah diburu waktu. Ia tahu dari kepala suku bahwa Mac sebenarnya adalah seekor mermain dan sudah melakukan hal terlarang. Mengubah ekornya menjadi kaki. Dan, sekarang laki-laki itu itu tengah diburu waktu sebelum lautan memanggilnya kembali dan berubah menjadi buih.

Adrea tidak merasa penasaran dengan kisah laki-laki itu, atau pun tertarik dengan alasananya, hanya saja Mac sudah menolongnya dan sebagai kesatria yang tahu diri, ia perlu membalas Mac. Mereka punya tempat tujuan yang sama, jadi Adrea akan memastikan mereka akan tiba di sana dengan aman.

Mereka duduk lama dalam diam, hanya ditemani suara riak kecil dari luar gua karang.

"Kita akan bergerak ketika tubuhmu sudah pulih sepenuhnya."

Mac mengangguk patuh. Tubuhnya sangat lemah sekarang dan ia tidak bisa membantah perkataan Adrea. Ia memang tengah diburu waktu, tetapi ia juga tidak bisa mengabaikan kondisinya dan membuat dirinya menjadi beban.

Adrea berdiri tidak lama kemudian dan pamit bersama kepala suku Ko'tren “Aku akan kembali lagi. Dan kau harus menghabiskan obat itu baru kemudian istirahat.” kata Adrea sambil menunjuk kerang di samping tempat tidur Mac.

Mac kembali mengangguk. "Baiklah."

Adrea mengangguk pelan kemudian pergi meninggalkan Mac sendiri di ruangannya.

Setelah mereka pergi Mac memaksakan tubuhnya untuk duduk. Meski tubuhnya bergetar ia memaksa mengangkat kerang dan meminum ramuan yang ada di dalamnya. “Istirahat, katanya, harusnya ia membantuku dulu minum obat sebelum pergi."


🧜🏻‍♀️🧜🏻‍♀️🧜🏻‍♀️
Mickey139

SEBELUMNYA CH LENGKAP

Share:

TERBARU

Copyright © 2014 - SUKA SUKA MICKEY | Powered by Blogger Design by ronangelo | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com