Sangat disarankan memberi kritik dan saran.
Rate: T
Genre: Mist
WARNING: AU, OOC, OC, typo, alur GaJe cerita se-mau-gue.
Story by
MICKEY139

Bab 1 — Gadis yang Disebut Cenayang
***
Pukul enam tiga puluh pagi, koridor SMA Harapan Bangsa sudah dipenuhi siswa yang bercakap-cakap sebelum pelajaran dimulai. Suara tawa, langkah kaki, dan obrolan tentang tugas yang belum selesai memenuhi udara pagi yang sejuk. Namun suasana yang ramai itu perlahan mereda ketika seorang gadis berjalan melewati lorong utama sekolah.
Charlotte Ellise Gunawan atau yang biasa disebut Lottie berjalan dengan langkah tenang sambil membawa tas hitam sederhana di bahunya. Rambut hitam panjangnya tergerai rapi hingga pinggang, bergerak perlahan mengikuti langkahnya. Seragam sekolahnya selalu terlihat bersih dan rapi, seolah baru disetrika setiap pagi. Tatapannya lurus ke depan tanpa sedikit pun melirik orang-orang di sekitarnya.
Lalu seperti biasa, bisikan mulai terdengar.
“Itu dia.”
“Cewek dukun.”
“Aku dengar dia tahu kalau Pak Doni bakal jatuh dari tangga minggu lalu.”
“Iya, terus benar-benar kejadian.”
“Seram banget.”
Itu bukan hanya sekedar bisikan pelan, mereka seolah sengaja agar Lottie mendengar semuanya. Ingin melihat reaksi Lottie. Lalu mempermalukannya. Sayangnya Lottie tidak peduli. Karena baginya, pendapat orang lain adalah sesuatu yang tidak bisa dikendalikan. Dan lagi ia juga malas karena ujung-ujungnya ia sendiri yang akan kena dampak buruknya
Lottie ingat, dulu, saat pertama kali masuk sekolah ini, orang-orang menganggapnya anak yang sangat pintar. Nilainya selalu sempurna. Ia bisa menjawab pertanyaan guru bahkan sebelum guru selesai menjelaskan. Namun semakin lama, semakin banyak kejadian yang membuat siswa lain merasa tidak nyaman.
Ketika seorang siswa kehilangan dompet, Lottie berhasil menebak siapa pelakunya hanya dengan melihat bekas lumpur di sepatu beberapa siswa.
Ketika terjadi kebocoran soal ujian, ia menemukan pelaku dalam waktu kurang dari satu jam.
Ketika seorang guru mengalami kecelakaan kecil di tangga sekolah, Lottie sudah memperingatkannya sehari sebelumnya.
Semua itu bukan karena kemampuan supranatural. Ia hanya memperhatikan lebih banyak daripada orang lain. Namun, kebanyakan orang lebih suka percaya pada hal-hal mistis daripada menerima kenyataan bahwa seseorang bisa berpikir jauh lebih tajam dari mereka.
Lottie membuka pintu kelas dan langsung menuju bangku favoritnya di dekat jendela paling belakang. Posisi itu membuatnya bisa melihat seluruh kelas sekaligus menghindari percakapan yang tidak perlu.
Ia meletakkan tas di samping kursi lalu mengeluarkan sebuah buku tebal tentang keamanan jaringan komputer.
Tidak ada yang aneh baginya. Tetapi bagi siswa SMA biasa, membaca buku keamanan siber saat jam kosong tentu bukan sesuatu yang umum.
Ia baru membuka beberapa halaman ketika suara gaduh mulai terdengar dari depan kelas.
“Aku dengar hari ini ada murid pindahan!”
“Beneran?”
“Cowok atau cewek?”
“Katanya cowok!”
Percakapan itu langsung membuat suasana kelas menjadi lebih hidup. Tetapi, Lottie tetap membaca. Murid baru itu tidak penting. Orang datang dan pergi dalam hidupnya setiap saat. Jadi, tidak ada alasan untuk peduli.
Beberapa menit kemudian wali kelas masuk sambil membawa beberapa berkas.
“Selamat pagi semuanya.”
“Selamat pagi, Bu.” semua siswa serempak menjawab dan Lottie juga ikut menjawab meski dengan suara pelan yang terdengar malas-malasan.
“Hari ini kita kedatangan siswa baru. Tolong bantu dia beradaptasi dengan lingkungan sekolah.”
Setelah mengatakan itu, pintu kelas terbuka. Seorang laki-laki masuk dengan senyum lebar di wajahnya. Tubuhnya cukup tinggi untuk ukuran siswa SMA. Rambut hitam pendeknya sedikit berantakan namun justru membuatnya terlihat santai. Ia berdiri di depan kelas dengan percaya diri yang membuat sebagian besar siswa langsung memperhatikannya.
“Halo semuanya!” katanya ceria.
Beberapa siswa tertawa. Sebagian lainnya langsung menyambut ramah.
“Namaku Nathan. Senang bertemu kalian. Mulai hari ini aku akan belajar di sini, jadi mohon bantuannya.”
Dalam hitungan detik suasana kelas berubah menjadi jauh lebih hangat. Nathan tampak seperti tipe orang yang bisa berteman dengan siapa saja. Ia berbicara tanpa canggung. Tertawa tanpa dibuat-buat. Dan, terlihat nyaman bahkan di lingkungan yang benar-benar baru.
Nathan memperhatikan seisi kelas, senang dengan sambutan teman sekelasnya. Namun, pandangannya berhenti pada satu sosok di pojok belakang. Seorang gadis yang bahkan tidak mengangkat kepala sejak ia masuk.
Nathan sedikit penasaran. Biasanya orang setidaknya akan melirik murid baru. Namun, gadis itu sama sekali tidak tertarik. Seolah kehadirannya tidak berarti apa pun.
⸻
Saat jam istirahat tiba, Nathan langsung dikelilingi banyak siswa. Mereka mengajaknya berkeliling sekolah, memperkenalkan kantin, lapangan olahraga, hingga klub-klub ekstrakurikuler yang ada.
Nathan menikmati semuanya. Ia memang mudah bergaul. Namun di tengah keramaian itu, ia beberapa kali melirik ke arah pojok kelas.
Lottie masih duduk di tempat yang sama. Sendirian. Tetap mempertahankan posisinya membaca buku seolah orang-orang yang ada di sekelilingnya hanya debu-debu halus kecil yang tidak memengaruhinya.
Gadis itu idak makan bersama teman. Tidak mengobrol. Tidak memainkan ponsel. Ia betul-betul menganggap seolah seluruh dunia di sekitarnya tidak ada.
Rasa penasaran Nathan akhirnya menang. Tanpa menghiraukan yang lain, ia berjalan menuju meja Lottie.
“Hai.” sapanya.
Lottie mengangkat pandangan dari bukunya.
“Hai.” jawabnya datar dan kembali menatap buku di depannya.
“Gue Nathan.”
“Tahu.” sekali lagi Lottie menjawabnya dengan nada datar.
Nathan tersenyum.
“Lottie, kan?”
“Iya.”
Nathan hampir tertawa. Percakapan itu terasa seperti berbicara dengan tembok yang sangat sopan.
“Mereka bilang, Lo dukun.”
Lottie menutup bukunya perlahan. Untuk pertama kalinya ia benar-benar menatap Nathan. Tatapan matanya tenang. Dingin. Namun, tidak mengintimidasi.
“Hm.”
“Lo emang bisa lihat masa depan?”
“Tidak.”
“Tapi, mereka bilangnya begitu.”
“Karena mereka malas berpikir.”
Nathan terdiam beberapa detik sebelum tertawa kecil. Entah kenapa jawaban itu terdengar masuk akal.
Sebelum ia bisa melanjutkan percakapan, Lottie sudah kembali membuka bukunya. Jelas sekali kalau pembicaraan mereka telah selesai menurut versinya.
Nathan akhirnya menyerah dan kembali ke kelompok teman barunya. Tetapi, sekarang ia malah semakin penasaran terhadap gadis itu.
⸻
Jam pelajaran ketiga dimulai ketika hari sudah sore. Sebenarnya pelajaran itu lebih seperti kegiatan ekstrakulikuker karena hanya beberapa orang saja yang lakukan. Itu adalah pelajaran olahraga dan dilakukan di lapangan basket. Dan sebagai siswa atletis, Nathan langsung menarik perhatian semua orang.
Ia berlari cepat. Mendrible bola seperti langkah ringan yang dengan mudah menghindari lawan. Beberapa poin tercetak dengan cepat. Ia benar-benqr berbakat dalam olahraga. Beberapa siswa bahkan mulai mengajaknya masuk tim basket sekolah.
Sementara dari pinggir lapangan, Lottie memperhatikan. Bukan karena tertarik. Melainkan karena ia memang selalu mengamati.
Semua orang. Entah gerakan mereka atau kebiasaan. Dan, ada sesuatu yang menarik perhatiannya.
Nathan sesekali menyentuh pergelangan kaki kirinya. Tidak sering. Hanya beberapa kali. Namun, cukup untuk menunjukkan bahwa bagian itu belum benar-benar pulih dari cedera.
Ia juga mengubah posisi pijakan saat mendarat setelah melompat. Tanda klasik seseorang yang tanpa sadar melindungi bagian tubuh yang pernah cedera.
Lottie mengalihkan pandangan. Menghela napas. Lagi-lagi tanpa sadar ia menganalisis. Dan, itu adalah informasi yang tidak begitu penting.
⸻
Beberapa saat kemudian bel pulang sekolah berbunyi. Para siswa mulai meninggalkan kelas.
Nathan sedang bercanda dengan beberapa teman ketika tiba-tiba suara pelan terdengar dari belakangnya.
“Nathan.”
Nathan menoleh. Namun, ia hanya melihat Lottie yang berdiri sambil memasukkan buku ke dalam tas. Tidak seperti sedang menyapanya.
“Ya? Lo manggil?
Lottie tidak mendongak untuk menatapnya, ia tetap memasukkan perlengkapannya di dalam tas. Sebenarnya ia juga sedang merutuki mulutnya. Padahal ia ingin pulang dengan tenang, tapi mulutnya malah bertindak sebaliknya.
“Besok jangan ikut pertandingan basket.” katanya dengan sikap cuek.
Nathan berkedip bingung.
“Kenapa?”
“Kakimu bakal tambah cedera.”
Suasana sekitar langsung menjadi hening. Beberapa siswa yang mendengar percakapan itu saling pandang. Sementara Nathan malah tertawa kecil.
“Serius?”
Lottie mengangguk. Perlengkapannya sudah ia masukkan semua di dalam tas. Pandangannya kemudian terangkat menatap mata coklat madu milik Nathan.
“Ligamen kirimu belum pulih.” jelasnya masih dengan nada cuek.
Nathan terdiam. Bagaimana bisa gadis itu tahu?
Ia memang pernah mengalami cedera saat pertandingan di sekolah lamanya beberapa bulan lalu. Namun, hampir tidak ada yang mengetahuinya.
“Ternyata lo beneran dukun, yah?” tanyanya setengah bercanda.
“Tidak.”
“Terus? Dari mana lo tahu?”
“Langkahmu berbeda setiap kali mendarat setelah melompat.”
Hanya dengan kalimat singkat itu, Nathan tidak tahu harus menjawab apa. Ia takjub sekaligus kagum dengan pengamatan gadis itu. Tidak ada orang yang pernah menegur atau memberinya saran hanya dengan pengamatan singkat seperti Lottie.
Sementara Lottie tanpa mengatakan apapun lagi, sudah berbalik dan pergi meninggalkan kelas. Di belakangnya, bisikan-bisikan kembali mulai terdengar lagi.
“Seram…”
“Kata gue juga apa.”
“Dia beneran dukun.”
Namun, Lottie memilih untuk mengabaikannya. Seperti biasa. Karena baginya, hidup akan jauh lebih mudah jika tidak terlalu mempedulikan manusia lain.
Sayangnya, ia belum tahu bahwa dalam beberapa hari ke depan, sebuah kasus hilangnya siswa akan memaksanya keluar dari kehidupan tenang yang selama ini ia pertahankan.
Dan untuk pertama kalinya, dirinya akan menjadi pusat perhatian seluruh sekolah.
| SEBELUMNYA | CH LENGKAP | SELANJUTNYA |



