Fly with your imajination

Wednesday, June 3, 2026

Not A Witch - BAB1

Sangat disarankan memberi kritik dan saran.


Main : Charlotte (Lottie) dan Nathan
Rate: T
Genre: Mist
WARNING: AU, OOC, OC, typo, alur GaJe cerita se-mau-gue.
Story by
MICKEY139


Bab 1 — Gadis yang Disebut Cenayang


***

Pukul enam tiga puluh pagi, koridor SMA Harapan Bangsa sudah dipenuhi siswa yang bercakap-cakap sebelum pelajaran dimulai. Suara tawa, langkah kaki, dan obrolan tentang tugas yang belum selesai memenuhi udara pagi yang sejuk. Namun suasana yang ramai itu perlahan mereda ketika seorang gadis berjalan melewati lorong utama sekolah.

Lottie berjalan dengan langkah tenang sambil membawa tas hitam sederhana di bahunya. Rambut hitam panjangnya tergerai rapi hingga pinggang, bergerak perlahan mengikuti langkahnya. Seragam sekolahnya selalu terlihat bersih dan rapi, seolah baru disetrika setiap pagi. Tatapannya lurus ke depan tanpa sedikit pun melirik orang-orang di sekitarnya.

Seperti biasa, bisikan mulai terdengar.

“Itu dia.”

“Gadis cenayang.”

“Aku dengar dia tahu kalau Pak Doni bakal jatuh dari tangga minggu lalu.”

“Iya, terus benar-benar kejadian.”

“Seram banget.”

Lottie mendengar semuanya.

Bukan karena mereka berbicara keras.

Melainkan karena ia sudah terbiasa mendengar bisikan semacam itu selama bertahun-tahun.

Ia tidak marah.

Tidak tersinggung.

Tidak juga sedih.

Karena bagi Lottie, pendapat orang lain adalah sesuatu yang tidak bisa dikendalikan.

Dulu, saat pertama kali masuk sekolah ini, orang-orang menganggapnya anak yang sangat pintar. Nilainya selalu sempurna. Ia bisa menjawab pertanyaan guru bahkan sebelum guru selesai menjelaskan. Namun semakin lama, semakin banyak kejadian yang membuat siswa lain merasa tidak nyaman.

Ketika seorang siswa kehilangan dompet, Lottie berhasil menebak siapa pelakunya hanya dengan melihat bekas lumpur di sepatu beberapa siswa.

Ketika terjadi kebocoran soal ujian, ia menemukan pelaku dalam waktu kurang dari satu jam.

Ketika seorang guru mengalami kecelakaan kecil di tangga sekolah, Lottie sudah memperingatkannya sehari sebelumnya.

Semua itu bukan karena kemampuan supranatural.

Ia hanya memperhatikan lebih banyak daripada orang lain.

Namun kebanyakan orang lebih suka percaya pada hal-hal mistis daripada menerima kenyataan bahwa seseorang bisa berpikir jauh lebih tajam dari mereka.

Lottie membuka pintu kelas dan langsung menuju bangku favoritnya di dekat jendela paling belakang. Posisi itu membuatnya bisa melihat seluruh kelas sekaligus menghindari percakapan yang tidak perlu.

Ia meletakkan tas di samping kursi lalu mengeluarkan sebuah buku tebal tentang keamanan jaringan komputer.

Tidak ada yang aneh baginya.

Tetapi bagi siswa SMA biasa, membaca buku keamanan siber saat jam kosong tentu bukan sesuatu yang umum.

Ia baru membuka beberapa halaman ketika suara gaduh mulai terdengar dari depan kelas.

“Aku dengar hari ini ada murid pindahan!”

“Beneran?”

“Cowok atau cewek?”

“Katanya cowok!”

Percakapan itu langsung membuat suasana kelas menjadi lebih hidup.

Lottie tetap membaca.

Murid baru tidak penting.

Orang datang dan pergi dalam hidupnya setiap saat.

Tidak ada alasan untuk peduli.

Beberapa menit kemudian wali kelas masuk sambil membawa beberapa berkas.

“Selamat pagi semuanya.”

“Selamat pagi, Bu.”

“Hari ini kita kedatangan siswa baru. Tolong bantu dia beradaptasi dengan lingkungan sekolah.”

Pintu kelas terbuka.

Seorang laki-laki masuk dengan senyum lebar di wajahnya.

Tubuhnya cukup tinggi untuk ukuran siswa SMA. Rambut hitam pendeknya sedikit berantakan namun justru membuatnya terlihat santai. Ia berdiri di depan kelas dengan percaya diri yang membuat sebagian besar siswa langsung memperhatikannya.

“Halo semuanya!” katanya ceria.

Beberapa siswa tertawa.

Sebagian lainnya langsung menyambut ramah.

“Namaku Nathan. Senang bertemu kalian. Mulai hari ini aku akan belajar di sini, jadi mohon bantuannya.”

Dalam hitungan detik suasana kelas berubah menjadi jauh lebih hangat.

Nathan tampak seperti tipe orang yang bisa berteman dengan siapa saja.

Ia berbicara tanpa canggung.

Tertawa tanpa dibuat-buat.

Dan terlihat nyaman bahkan di lingkungan yang benar-benar baru.

Ketika memperhatikan seluruh kelas, pandangannya berhenti pada satu sosok di pojok belakang.

Seorang gadis yang bahkan tidak mengangkat kepala sejak ia masuk.

Lottie.

Nathan sedikit penasaran.

Biasanya orang setidaknya akan melirik murid baru.

Namun gadis itu sama sekali tidak tertarik.

Seolah kehadirannya tidak berarti apa pun.

Saat jam istirahat tiba, Nathan langsung dikelilingi banyak siswa. Mereka mengajaknya berkeliling sekolah, memperkenalkan kantin, lapangan olahraga, hingga klub-klub ekstrakurikuler yang ada.

Nathan menikmati semuanya.

Ia memang mudah bergaul.

Namun di tengah keramaian itu, ia beberapa kali melirik ke arah pojok kelas.

Lottie masih duduk di tempat yang sama.

Sendirian.

Membaca buku.

Tidak makan bersama teman.

Tidak mengobrol.

Tidak memainkan ponsel.

Seolah seluruh dunia di sekitarnya tidak ada.

Rasa penasaran Nathan akhirnya menang.

Ia berjalan menuju meja Lottie.

“Hai.”

Lottie mengangkat pandangan dari bukunya.

“Hai.”

“Aku Nathan.”

“Tahu.”

Nathan tersenyum.

“Kau Lottie.”

“Tahu.”

Nathan hampir tertawa.

Percakapan itu terasa seperti berbicara dengan tembok yang sangat sopan.

“Orang-orang bilang kau cenayang.”

Lottie menutup bukunya perlahan.

Untuk pertama kalinya ia benar-benar menatap Nathan.

Tatapan matanya tenang.

Dingin.

Namun tidak mengintimidasi.

“Hm.”

“Kau memang bisa melihat masa depan?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa mereka bilang begitu?”

“Karena mereka malas berpikir.”

Nathan terdiam beberapa detik sebelum tertawa kecil.

Entah kenapa jawaban itu terdengar masuk akal.

Sebelum ia bisa melanjutkan percakapan, Lottie sudah kembali membuka bukunya.

Jelas sekali bahwa pembicaraan telah selesai menurut versinya.

Nathan akhirnya menyerah dan kembali ke kelompok teman barunya.

Namun sekarang ia semakin penasaran terhadap gadis itu.

Pelajaran olahraga sore itu berlangsung di lapangan basket.

Nathan langsung menarik perhatian semua orang.

Ia berlari cepat.

Mudah mencetak poin.

Dan terlihat sangat berbakat dalam olahraga.

Beberapa siswa bahkan mulai mengajaknya masuk tim basket sekolah.

Dari pinggir lapangan, Lottie memperhatikan.

Bukan karena tertarik.

Melainkan karena ia memang selalu mengamati.

Semua orang.

Semua gerakan.

Semua kebiasaan.

Dan ada sesuatu yang menarik perhatiannya.

Nathan sesekali menyentuh pergelangan kaki kirinya.

Tidak sering.

Hanya beberapa kali.

Namun cukup untuk menunjukkan bahwa bagian itu belum benar-benar pulih dari cedera.

Ia juga mengubah posisi pijakan saat mendarat setelah melompat.

Tanda klasik seseorang yang tanpa sadar melindungi bagian tubuh yang pernah cedera.

Lottie mengalihkan pandangan.

Informasi itu tidak penting.

Namun otaknya sudah terlanjur menyimpannya.

Bel pulang sekolah berbunyi.

Siswa mulai meninggalkan kelas.

Nathan sedang bercanda dengan beberapa teman ketika tiba-tiba suara pelan terdengar dari belakangnya.

“Nathan.”

Nathan menoleh.

Lottie berdiri sambil memasukkan buku ke dalam tas.

“Ya?”

“Besok jangan ikut pertandingan basket.”

Nathan berkedip bingung.

“Kenapa?”

“Kakimu akan cedera.”

Suasana sekitar langsung menjadi hening.

Beberapa siswa yang mendengar percakapan itu saling pandang.

Nathan tertawa kecil.

“Serius?”

Lottie mengangguk.

“Ligamen kirimu belum pulih.”

Nathan terdiam.

Bagaimana gadis itu tahu?

Ia memang pernah mengalami cedera saat pertandingan di sekolah lamanya beberapa bulan lalu.

Namun hampir tidak ada yang mengetahuinya.

“Apa kau benar-benar cenayang?” tanyanya setengah bercanda.

“Tidak.”

“Lalu bagaimana kau tahu?”

“Langkahmu berbeda setiap kali mendarat setelah melompat.”

Nathan tidak tahu harus menjawab apa.

Sementara Lottie sudah berbalik dan pergi meninggalkan kelas.

Di belakangnya, bisikan-bisikan mulai terdengar lagi.

“Seram…”

“Aku bilang juga apa.”

“Dia pasti tahu sesuatu.”

Namun Lottie tidak mendengarnya lagi.

Atau mungkin ia mendengar, tetapi memilih untuk mengabaikannya.

Seperti biasa.

Karena baginya, hidup akan jauh lebih mudah jika tidak terlalu mempedulikan manusia lain.

Sayangnya, ia belum tahu bahwa dalam beberapa hari ke depan, sebuah kasus hilangnya siswa akan memaksanya keluar dari kehidupan tenang yang selama ini ia pertahankan.

Dan untuk pertama kalinya, dirinya akan menjadi pusat perhatian seluruh sekolah.

🌫🌫🌫🌫
Mickey139

SEBELUMNYA CH LENGKAP SELANJUTNYA
Share:

Not A Witch - Prolog 2 - Lottie

Sangat disarankan memberi kritik dan saran.


Main : Charlotte (Lottie) dan Nathan
Rate: T
Genre: Mist
WARNING: AU, OOC, OC, typo, alur GaJe cerita se-mau-gue.
Story by
MICKEY139


Prolog Lottie: Gadis yang Disebut Cenayang


***

Semua orang mengira Lottie adalah cenayang.

Mereka mengira gadis pendiam itu bisa melihat masa depan.

Tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya Lottie hanya melihat sesuatu yang tidak diperhatikan orang lain.

Jejak sepatu yang basah.

Pola kebiasaan seseorang.

Perubahan ekspresi wajah.

Jam tangan yang tiba-tiba tidak dipakai.

Sisa lumpur pada ujung celana.

Hal-hal kecil yang bagi kebanyakan orang tidak berarti apa-apa.

Namun bagi Lottie, potongan-potongan kecil itu adalah jawaban.

Dan terkadang…

Jawaban yang ditemukan terlalu cepat justru membuat orang lain ketakutan.

Seperti hari ini.

Lottie berdiri di tepi sungai sambil menatap kerumunan polisi.

Garis kuning pembatas telah dipasang.

Beberapa petugas sedang mengangkat sesuatu dari semak-semak.

Sebuah kantong jenazah.

Tubuh seorang siswa SMA yang dilaporkan hilang tiga hari lalu.

Para petugas belum mengumumkan identitas korban.

Namun Lottie sudah mengetahuinya sejak kemarin malam.

Bukan karena ia bisa melihat masa depan.

Melainkan karena ia menemukan pola yang tidak dilihat siapa pun.

Sayangnya…

Orang-orang tidak peduli dengan penjelasan semacam itu.

Mereka hanya melihat satu hal.

Lottie selalu berada di tempat mayat ditemukan.

Dan itu membuat mereka takut.

Beberapa meter di belakangnya terdengar suara.

“Hei.”

Lottie menoleh.

Seorang laki-laki berdiri sambil membawa tas sekolah di pundaknya.

Rambut hitamnya berantakan diterpa angin.

Senyumnya terlihat santai.

Nathan.

Murid pindahan yang baru masuk seminggu lalu.

Satu-satunya orang yang masih berani berbicara padanya.

“Kau tahu mereka sedang membicarakanmu lagi?” tanya Nathan.

“Tahu.”

“Dan kau tidak marah?”

“Tidak.”

Nathan menghela napas.

“Aku tidak mengerti bagaimana kau bisa setenang itu.”

Lottie kembali menatap sungai.

“Karena marah tidak mengubah apa pun.”

Nathan terdiam.

Jawaban itu terdengar sangat khas Lottie.

Dingin.

Singkat.

Tapi entah kenapa selalu masuk akal.

Beberapa saat kemudian Nathan bertanya,

“Kau bukan pelakunya, kan?”

Lottie meliriknya.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ekspresinya sedikit berubah.

Bukan marah.

Bukan kesal.

Melainkan heran.

“Kenapa bertanya begitu?”

Nathan mengangkat bahu.

“Karena semua orang menganggapmu pembunuh.”

“Lalu?”

“Aku tidak percaya.”

“Kau bahkan tidak mengenalku.”

Nathan tersenyum.

“Benar.”

“Lalu kenapa percaya?”

Nathan memandang ke arah sungai.

“Aku cuma punya firasat.”

Lottie menghela napas pelan.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama…

Ada seseorang yang tidak memandangnya seperti monster.

Dan entah kenapa…

Perasaan itu terasa aneh.

Sangat aneh.

Karena selama ini ia sudah terbiasa sendirian.

Sementara jauh di tempat lain…

Seseorang sedang memperhatikan mereka.

Seseorang yang tersenyum melihat nama berikutnya dalam sebuah daftar.

Daftar yang berisi calon korban berikutnya.

Dan permainan baru saja dimulai.

🌫🌫🌫🌫
Mickey139

SEBELUMNYA CH LENGKAP SELANJUTNYA
Share:

Monday, February 9, 2026

THE MERMAID - TUJUH

 Sangat dianjurkan memberi saran dan kritik.

Terima kasih 😊.

SEBELUMNYA CH LENGKAP



THE MERMAID
WARNING: AU, OOC, OC (sedikit) typo (mungkin banyak), alur GaJe, (masih perlu banyak belajar)
@mickey139

Mohon maaf jika ada kesamaan ide cerita

DLDR

enjoy :)


🧜🏻‍♀️🧜🏻‍♀️🧜🏻‍♀️

Mac terbaring kembali, merasakan sensasi panas dan dingin yang saling bergantian merayap dalam tubuhnya. Obat dari kerang itu mulai bekerja, meskipun rasa pusingnya tak kunjung hilang. Ia menutup mata sejenak, meski tempat ia tertidur adalah ruangan yang sudah dilapisi sihir gelembung udara, namun Mac bisa merasakan udara laut samar yang segar memasuki paru-parunya.

Bayangan gelap tentang Seleris masih mengganggu pikirannya. Kehidupan Mac, entah bagaimana, kini berada di ujung tanduk. Namun, ada satu hal yang ia tahu pasti: perjalanan mereka belum berakhir.

Waktu berlalu dengan lambat. Tiga hari sejak ia terbangun, dan meskipun tubuhnya mulai pulih sedikit demi sedikit, rasa sakit yang tersisa cukup mengingatkan Mac pada betapa dekatnya kematian tadi. Di luar gua, suara ombak yang menghantam karang terdengar seperti nyanyian berulang, menceritakan kisah mereka yang masih berlanjut.

Tiba-tiba, suara langkah kaki mengganggu keheningan itu. Mac membuka mata, mencoba untuk mengangkat tubuhnya, namun rasa sakit kembali menyambut. Seekor handfish hijau memasuki gua. Matanya berkilau seperti mutiara biru.

“Kau sudah lebih baik,” kata Handfish itu, suaranya seperti gelombang yang menghantam pantai—tenang namun penuh kekuatan.

Mac hanya mengangguk, meskipun ia merasa canggung dengan makhluk ini. Ia sudah lama tidak bertemu handfish yang bisa berbicara. Ia tahu bahwa di desa itu tinggal berbagai jenis -makhluk yang berbeda. Bukan hanya duyung, ikan atau pun makhluk seperti batu yang sudah membantu membawanya ke sana.

“Namaku Nyssa,” tambahnya sembari menyodorkan sebuah cawan kecil yang terbuat dari batu karang. “Ini obat lain yang bisa mempercepat pemulihanmu.”

Mac menerima cawan itu dengan perlahan, meminum isinya tanpa bertanya lebih lanjut. Rasanya agak aneh, seperti cairan segar yang berasal langsung dari kedalaman lautan. Segera, sensasi hangat mengalir dari tenggorokannya ke seluruh tubuhnya, dan rasa sakit di otot-ototnya berangsur-angsur berkurang.

“Terima kasih,” ucap Mac pelan.

Nyssa hanya mengangguk, lalu memposisikan dirinya di sisi tempat tidur Mac, memandang ke luar gua yang dilapisi sihir hingga air tak akan menembus gua itu.  Cahaya keemasan dari pantulan bioluminesensi menembus sela-sela gua dan menerangi tempat Mac. “Kau tahu,” kata Handfish itu setelah beberapa saat, “di sini, di kedalaman lautan ini, kita sering terjebak dalam kegelapan. Bukan hanya karena jarak dari permukaan, tapi karena kenangan yang datang dengan setiap gelombang.”

Mac menatapnya bingung. “Kenangan?”

Nyssa tersenyum dengan kesedihan yang samar. “Kami dilahirkan di kedalaman laut. Laut dalam itu seperti rumah kami," Mac mengangguk karena dirinya pun lahir di kedalaman laut. "namun itu juga bisa menjadi penjara." Sekali lagi Mac mengangguk pelan. Kenangannya kembali pada beberapa tahun lalu ketika ia merasa laut adalah penjara dan ia ingin bebas. Ia ingin mengarungi dunia. Bukan hanya bawah laut tetapi juga daratan. Dan cinta memberinya kekuatan untuk mengubah ekornya menjadi kaki. Lalu kini ia menyesal. "Kami tahu ada banyak makhluk yang tinggal di sana, jauh lebih tua dan lebih kuat dari kita. Mereka… seperti Seleris.”

Mac menelan ludah. “Mereka…?” Ia tahu bahwa di bawah laut banyak makhluk yang hidup di dalamnya. Termasuk yang dimaksud Nyssa.

Nyssa mengangguk, wajahnya semakin murung. “Ya. Mereka adalah bagian dari sejarah kami, bagian dari kisah yang terlupakan. Laut dalam bukan hanya rumah yang indah, tapi juga penuh dengan makhluk yang dapat menghancurkan semuanya, seperti Mosasaurus. Mereka adalah predator purba yang menguasai dasar laut, dan mereka takkan ragu menghancurkan apapun yang mereka anggap mengancam.”

Mac merasakan gelombang ketegangan di dalam dirinya. Jika Seleris adalah ancaman, maka Mosasaurus jelas jauh lebih mengerikan. Makhluk-makhluk itu bukan hanya predator, mereka adalah simbol dari kegelapan dan ketakutan yang menyelimuti lautan.

Nyssa berdiri perlahan, melihat ke arah pintu gua. “Aku harus pergi. Kepala Suku Ko’tren ingin berbicara denganmu.”

Mac hanya mengangguk. “Tentu.”

Ketika Nyssa pergi, Mac kembali terbaring, merenung tentang apa yang baru saja dia dengar. Laut dalam memang jauh lebih mengerikan daripada yang dia bayangkan. Ia berpikir tentang desa Ko’tren yang mereka singgahi, sebuah desa yang terletak di perbatasan antara dunia manusia dan dunia para mermaid. Mereka adalah penghubung antara dua dunia, namun juga berada di tengah pertempuran yang tak terlihat—pertempuran antara makhluk purba dan yang lebih muda, antara kelangsungan hidup dan kehancuran.

🧜🏻‍♂️🧜🏻‍♂️🧜🏻‍♂️

Beberapa jam kemudian, Adrea kembali, kali ini dengan ekspresi serius di wajahnya. Mac yang sedang duduk di dekat jendela gua langsung menatapnya.

“Ada apa?” tanya Mac.

“Kita perlu pergi sekarang,” kata Adrea tanpa basa-basi. “Ko’tren sudah memberi informasi penting. Ada sesuatu yang jauh lebih gelap di bawah sana.”

Mac mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”

Adrea menarik napas panjang. “Laut dalam bukan sekadar tempat yang berbahaya. Ada kerajaan yang terlupakan, kerajaan yang dikendalikan oleh makhluk-makhluk purba. Mereka tidak akan membiarkan siapa pun melintasi wilayah mereka.”

Mac terdiam, merasakan udara yang semakin tebal di sekitarnya. “Lalu, apa yang harus kita lakukan?”

Adrea memandang ke arah luar, ke lautan yang tampak tenang namun menyimpan begitu banyak rahasia. “Kita harus mencari jalan keluar dari sini sebelum mereka datang. Tapi kita tidak bisa melakukannya sendirian. Kita butuh bantuan dari penduduk suku Ko'tren.”

Mac merasa ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar pertarungan fisik yang harus mereka hadapi. Laut dalam tidak hanya menyimpan kekuatan alam yang mengerikan, tetapi juga kekuatan yang jauh lebih tua, yang melampaui segala sesuatu yang pernah mereka lihat.

🧜🏻‍♂️🧜🏻‍♂️🧜🏻‍♂️

Hari-hari berlalu dan Mac mulai pulih sepenuhnya, meskipun kadang-kadang tubuhnya terasa lelah, seperti ada beban yang menindihnya. Ia dan Adrea memutuskan untuk berbicara dengan Kepala Suku Ko'tren dan para mermaid di desa. Ada banyak hal yang perlu mereka pelajari—tentang sejarah laut dalam, tentang Mosasaurus yang menguasai dasar laut, dan tentang kerajaan kuno yang tersisa di kedalaman yang lebih dalam lagi.

Ko'tren akhirnya memberi mereka izin untuk melanjutkan perjalanan, meskipun peringatan mereka jelas: Laut dalam itu gelap, dan ada hal-hal yang lebih buruk daripada hanya predator yang mengintai.

Di hari keempat setelah kesembuhannya, mereka berangkat, diiringi oleh Nyssa yang memutuskan untuk ikut membantu mereka menavigasi bahaya yang akan datang. Desanya yang damai kini terasa begitu jauh di belakang mereka, dan perjalanan mereka semakin menuju wilayah yang belum pernah dijelajahi.

Saat mereka menuruni tebing karang yang curam, suara ombak berubah menjadi lebih dalam, lebih mengerikan. Mac merasakan perasaan cemas yang membuncah di dadanya. Mereka semakin mendekati wilayah yang dilarang, tempat di mana Mosasaurus bersembunyi, dan di bawahnya—ada sesuatu yang lebih gelap lagi, sesuatu yang mengancam semua kehidupan yang ada di lautan.

“Mac,” Adrea berkata dengan suara rendah. “Apa yang kau rasa sekarang?”

Mac menatap laut yang luas dan gelap. “Aku merasa seperti… kita baru saja memasuki perangkap.”


🧜🏻‍♀️🧜🏻‍♀️🧜🏻‍♀️
Mickey139

SEBELUMNYA CH LENGKAP

Share:

Sunday, December 21, 2025

Catatan Harian Oyen

🐾🐾🐾

Namaku Oyen.
Aku kucing oren.
Artinya aku gemuk, malas, dan sering dituduh padahal tidak tahu apa-apa.

Siang itu, aku sedang melakukan sesuatu yang sangat penting: tidur setengah sadar di bawah kursi teras. Anginnya enak sekali, matahari juga pas,  perutku juga sudah kenyang dengan sisa ikan asin yang jatuh “tidak sengaja” dari meja dapur.

Hidup sempurna.

Lalu tiba-tiba—

“SEMPAKKU HILANG!!!”

Aku terbangun dengan kaget. Bukan karena peduli, tapi karena volume suara itu bisa membangunkan leluhur-leluhurku dari tujuh generasi.

Semua bulu di badanku tegak berdiri. Siaga. Ekor naik setengah. Kuping tegak. Mata melirik ke kiri dan kanan.

Aku menghela. Aku pikir sudah ketahuan mengambil ikan asin tadi. Lagipula, kenapa manusia ribut lagi, sih? Mengganggu saja.

Tetapi, biasanya kalau manusia ribut itu ada dua kemungkinan:

1. Ada makanan
2. Ada yang hilang dan ujung-ujungnya aku disalahkan

Sayangnya, ini bukan soal makanan.

🐾🐾🐾

Manusia dan Kegemaran Mereka Ribut

Aku melihat Nenek keluar dari rumah. Wajahnya merah, napasnya berat, auranya seperti mau melempar sendal tapi masih mikir siapa targetnya.

Aku reflek waspada. “Ini mode bahaya!”

Aku memutuskan pindah posisi ke halaman samping. Di sana ada Mika, manusia kecil yang hobinya mengejarku padahal aku tidak pernah mengejarnya balik.

“Oyen! Oyen!”

Aku lari zig-zag. Supaya Mika bisa berhenti mengejar. Aku hanya mau tidur, bukan mau main.

Tiba-tiba Nenek muncul lagi.

“Mika!”

Mika berhenti.

“Mika, kamu lihat sempak nenek?”

Aku langsung membeku. Kulihat nenek waspada. Kemungkinan besar aku lagi yang tertuduh.

Tapi, sempak itu apa?

Kenapa benda itu penting sekali sampai manusia teriak siang bolong?

Mika menjawab dengan kalimat paling jujur sedunia, “Oyen aja enggak pakai sempak.”

Oh, ternyata itu sesuatu yang manusia suka pakai.

Untungnya, aku tidak pakai dan aku juga tidak mau pakai. Buluku lebih nyaman.

Tapi entah kenapa, setelah kalimat itu, Nenek menatap ke arahku.

Aku menelan ludah.

Bahaya level dua.

🐾🐾🐾

Jemuran: Pohon Gantung Aneh

Aku sering duduk di dekat jemuran. Bukan karena aku suka pakaian, tapi karena di sana biasanya ada angin, bayangan, dan kadang cicak lengah.

Jemuran hari itu goyang-goyang dari pagi. Angin kencang. Aku ingat betul, karena salah satu kain hampir jatuh dan aku sempat mengira itu musuh.

Aku memukulnya sekali.
Tidak bergerak.
Aku pukul lagi.
Tetap tidak hidup.

Membosankan.

Lalu manusia berkumpul. Ayah, Ibu, Kakak besar yang bau headset, semua duduk serius. Nadanya seperti mau membahas dunia mau kiamat.

“Itu bukan sempak biasa,” kata Nenek.

Aku heran.

Kenapa manusia bisa punya kain keberuntungan, sementara aku hanya punya kardus bekas yang dianggap “sudah jelek, Oyen”?

🐾🐾🐾

Para Manusia Mencurigai Sesamanya

Aku melihat manusia saling menunjuk. Manusia yang bawa gerobak makanan datang lagi. Manusia lain yang sering berkeliling juga datang. Dan ibu-ibu baik yang sering beri aku makan kalau ke rumahnya.

Aku duduk manis, menjilati kaki sendiri, pura-pura tidak tahu apa-apa.

Padahal aku tahu satu hal:

Aku tidak mengambil apa pun.

Tanganku pendek. Aku malas. Dan motif bunga mawar ungu? Tidak cocok dengan buluku.

Aku lebih suka kain bau ikan.

Tapi tetap saja, setiap kali kata “hilang” disebut, manusia melirik ke arahku.

Diskriminasi kucing oren.

🐾🐾🐾

Malam dan Suara Aneh

Malam hari, aku tidur di pojokan. Tiba-tiba aku dengar suara dari atas.

“Krak… krak…”

Aku langsung bangun. Kuping tegak.

“Itu bukan aku,” pikirku. “Aku tidak naik plafon. Aku takut tinggi.”

Tiba-tiba terdengar teriakan Kakak besar. Semua manusia panik.

Aku ikut panik, tapi tetap duduk. Prinsip kucing: panik boleh, lari jangan dulu.

Lalu muncul makhluk kecil berbulu, ekor panjang, bau keju.

TIKUS.

Dia membawa sesuatu.

Kain.

Bunga.

Ungu.

Oh.

Itu benda yang bikin manusia ribut.

Aku langsung paham semuanya.

🐾🐾🐾

Manusia Akhirnya Mengerti (Agak)

“ITU SEMPAKKU!” teriak Nenek.

Tikus lari. Kain jatuh.

Aku mendengus.

Dasar tikus. Bikin repot satu rumah.

Manusia terdiam. Aku bisa merasakan keheningan itu. Sunyi. Berat. Campur bau tikus.

“Astaga,” kata Ayah.

“Pantesan,” kata Ibu.

“Bau keju,” kata Nenek.

Nah, akhirnya manusia pakai hidung juga.

🐾🐾🐾

Keesokan Hari

Jemuran pindah ke belakang rumah. Semua kain dijepit dobel.

Aku mengamati dari jauh.

Aku tidak peduli soal sempak. Tapi aku senang satu hal:

Manusia akhirnya berhenti ribut.

Aku kembali tidur. Dunia kembali seimbang.

Satu hal yang masih aku pikirkan:

Kenapa manusia bisa ribut besar soal kain kecil, sementara waktu aku tidur di keyboard Kakak besar, aku langsung dimarahi?

Manusia memang aneh.

Aku Oyen.
Aku saksi.
Aku tidak bersalah.

MIAW. 🐾

TAMAT.

Share:

Wednesday, December 17, 2025

Bukan Gulali


Judul Cerita : Bukan Gulali
Bahasa Asli: Indonesia
Status: Ongoing
Genre: Romance




♥♥♥

Ringkasan:


Sean terbangun tanpa ingatan, hanya satu hal yang ia yakini—Hana adalah wanita yang ia cintai. Tapi dunia nyatanya tak sesederhana itu. Hana adalah kekasih Regan, kakak laki-lakinya sendiri.

Demi menjaga Sean yang rapuh, Regan dan Hana memilih menyembunyikan kebenaran. Namun ketika semuanya terungkap, luka, kemarahan, dan pengkhianatan menyelimuti hubungan saudara itu.

Di tengah keluarga yang selalu bertengkar, cinta yang terluka, dan rahasia yang terbongkar, Regan dan Hana memilih menikah diam-diam, membangun hidup dari awal. Tapi bisakah cinta bertahan saat masa lalu terus menghantui?

Ini bukan kisah cinta yang manis. Ini kisah tentang memilih, mengalah, dan bertahan—meski pahit.

DAFTAR CHAPTER
Share:

Monday, December 8, 2025

ANAK TOKO - Pengagum Rahasia di Minimarket

Sangat disarankan memberi kritik dan saran.


Main : Tini, Mila, Mulyadi, Agus, Ridho
Rate: T
Genre: Slice of Life
WARNING: AU, OOC, OC, typo, alur GaJe cerita se-mau-gue.
Story by
MICKEY139




SUMMARY :

Kisah para kacung alias anak toko yang ditempatkan di minimarket desa. Desa itu agak sepi, apalagi saat malam. Rata-rata aktivitas di lakukan saat pagi hingga jam delapan malam. Di sana tidak ada hiburan. Jadi, hiburan satu-satu nya anak toko adalah ketika pembeli datang ke toko.

~happy reading~



Hari itu, sekitar pukul 6 sore, Ridho baru saja selesai bekerja dan mampir ke minimarket untuk membeli beberapa bahan masakan. Shift-nya selesai jam 4 sore, tapi dia baru bisa pulang jam 5 setelah berurusan dengan serah terima pekerjaan—yang biasanya lebih ribet daripada rapat perusahaan.

Sambil mendorong keranjang belanja, Ridho memilih bahan masakan. Tiba-tiba, matanya tertuju pada seorang pria yang tampak sangat serius—terlalu serius—memilih mie instan di rak sebelah. Pria itu tampak seperti sedang memilih pasangan hidup, bolak-balik menimbang berbagai merek mie instan, bingung, ragu, dan sesekali menghela napas berat. Ridho hanya mengerutkan kening, merasa ada yang aneh, tapi berpikir, Ya sudah lah, orang bebas mau bingung soal mie instan.

Saat Ridho melangkah ke rak saus sambal, tiba-tiba pria itu menoleh dan... mereka saling bertatapan. Jantung Ridho hampir berhenti sejenak, dan pria itu langsung tersenyum lebar, seakan-akan mereka baru saja bertemu setelah 10 tahun tidak berjumpa, lalu dengan penuh semangat kembali menatap rak mie instan seperti menemukan pencerahan.

Ridho bingung, tapi lanjut belanja. Setibanya di kasir, dia kembali melihat pria itu, kali ini sedang berkutat dengan telur. Dia mengambil satu telur, meletakkannya lagi, lalu mengambil telur lain, kemudian kembali ke telur pertama. Ridho mulai curiga. Ini orang serius banget mikirin telur. Apa dia takut salah pilih telur? Atau dia lagi nyari telur yang bisa bikin omellet paling sempurna?

Dia melirik Mila yang sedang berjaga di kasir dan memberi isyarat halus.

Mila yang sudah paham, mendekati pria itu begitu tidak ada pelanggan lain.

“Ada yang bisa saya bantu, Mas?” tanya Mila dengan ramah.

Pria itu tampak kaget, menoleh, dan dengan sedikit gagap ia menggeleng pelan sambil tersenyum. “Enggak, Mbak. Makasih.”

Mila mengangguk dan berbalik, tapi sebelum dia pergi, pria itu kembali bersuara.

“Anu, Mbak…” katanya dengan nada ragu.

Mila berhenti dan menatapnya. “Ya?”

Pria itu melirik Ridho yang sedang sibuk memilih sambal, kemudian dengan ekspresi malu-malu berkata, “Sebenarnya saya butuh sesuatu, Mbak.”

Mila menatapnya penuh perhatian. “Apa, Mas?”

“Anu… itu, Mas yang di sana…” Pria itu memberi kode dengan mengarahkan pandangannya ke Ridho. “Dia sudah punya pacar, nggak, Mbak?”

Mila terkekeh pelan, “Oh, Mas mau jadi mak comblang?”

Pria itu menggeleng cepat. “Bukan, Mbak... Saya cuma penasaran, dia sudah punya pacar apa belum.”

Mila melirik Ridho yang sedang tampak sibuk menghindari pandangannya. “Ah, kalau gitu, Mas lagi tertarik ya?” tanya Mila dengan nada menggoda.

Pria itu tampak sangat malu dan mengangguk pelan. Matanya berbinar-binar, mulutnya ternganga, dan dengan suara pelan berkata, “Iya, Mbak… Saya suka sama Mas yang di sana.”

Mila hampir tertawa terbahak-bahak. “Serius, Mas? Kamu suka Ridho?”

Pria itu mengangguk dengan percaya diri. “Iya, Mbak. Ridho. Itu namanya.”

Mila melirik Ridho yang saat itu terlihat seperti ingin menghilang ke dalam rak saus sambal. Oh no, pikir Mila, pria ini bisa jadi penguntit mie instan.

“Ooh,” Mila mengangguk, berpura-pura paham. “Sayang banget, Mas, Ridho itu sudah menikah.”

Pria itu tampak kecewa, namun hanya sebentar. Matanya kembali berbinar-binar, dan dengan penuh keyakinan ia berkata, “Tapi kan, Mbak, mereka lagi LDR!” Dia mengatakannya seolah itu adalah alasan yang sangat kuat dan sah.

Mila terdiam. Ada jeda hening yang cukup lama sebelum dia kembali ke kasir, menahan tawa.


πŸ’πŸ’πŸ’
Mickey139

Share:
Copyright © 2014 - SUKA SUKA MICKEY | Powered by Blogger Design by ronangelo | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com