
πΎπΎπΎ
Namaku Oyen.Aku kucing oren.
Artinya aku gemuk, malas, dan sering dituduh padahal tidak tahu apa-apa.
Siang itu, aku sedang melakukan sesuatu yang sangat penting: tidur setengah sadar di bawah kursi teras. Anginnya enak sekali, matahari juga pas, perutku juga sudah kenyang dengan sisa ikan asin yang jatuh “tidak sengaja” dari meja dapur.
Hidup sempurna.
Lalu tiba-tiba—
“SEMPAKKU HILANG!!!”
Aku terbangun dengan kaget. Bukan karena peduli, tapi karena volume suara itu bisa membangunkan leluhur-leluhurku dari tujuh generasi.
Semua bulu di badanku tegak berdiri. Siaga. Ekor naik setengah. Kuping tegak. Mata melirik ke kiri dan kanan.
Aku menghela. Aku pikir sudah ketahuan mengambil ikan asin tadi. Lagipula, kenapa manusia ribut lagi, sih? Mengganggu saja.
Tetapi, biasanya kalau manusia ribut itu ada dua kemungkinan:
1. Ada makanan2. Ada yang hilang dan ujung-ujungnya aku disalahkan
Sayangnya, ini bukan soal makanan.
πΎπΎπΎ
Manusia dan Kegemaran Mereka Ribut
Aku melihat Nenek keluar dari rumah. Wajahnya merah, napasnya berat, auranya seperti mau melempar sendal tapi masih mikir siapa targetnya.
Aku reflek waspada. “Ini mode bahaya!”
Aku memutuskan pindah posisi ke halaman samping. Di sana ada Mika, manusia kecil yang hobinya mengejarku padahal aku tidak pernah mengejarnya balik.
“Oyen! Oyen!”
Aku lari zig-zag. Supaya Mika bisa berhenti mengejar. Aku hanya mau tidur, bukan mau main.
Tiba-tiba Nenek muncul lagi.
“Mika!”
Mika berhenti.
“Mika, kamu lihat sempak nenek?”
Aku langsung membeku. Kulihat nenek waspada. Kemungkinan besar aku lagi yang tertuduh.
Tapi, sempak itu apa?
Kenapa benda itu penting sekali sampai manusia teriak siang bolong?
Mika menjawab dengan kalimat paling jujur sedunia, “Oyen aja enggak pakai sempak.”
Oh, ternyata itu sesuatu yang manusia suka pakai.
Untungnya, aku tidak pakai dan aku juga tidak mau pakai. Buluku lebih nyaman.
Tapi entah kenapa, setelah kalimat itu, Nenek menatap ke arahku.
Aku menelan ludah.
Bahaya level dua.
πΎπΎπΎ
Jemuran: Pohon Gantung Aneh
Aku sering duduk di dekat jemuran. Bukan karena aku suka pakaian, tapi karena di sana biasanya ada angin, bayangan, dan kadang cicak lengah.
Jemuran hari itu goyang-goyang dari pagi. Angin kencang. Aku ingat betul, karena salah satu kain hampir jatuh dan aku sempat mengira itu musuh.
Aku memukulnya sekali.Tidak bergerak.
Aku pukul lagi.
Tetap tidak hidup.
Membosankan.
Lalu manusia berkumpul. Ayah, Ibu, Kakak besar yang bau headset, semua duduk serius. Nadanya seperti mau membahas dunia mau kiamat.
“Itu bukan sempak biasa,” kata Nenek.
Aku heran.
Kenapa manusia bisa punya kain keberuntungan, sementara aku hanya punya kardus bekas yang dianggap “sudah jelek, Oyen”?
πΎπΎπΎ
Para Manusia Mencurigai Sesamanya
Aku melihat manusia saling menunjuk. Manusia yang bawa gerobak makanan datang lagi. Manusia lain yang sering berkeliling juga datang. Dan ibu-ibu baik yang sering beri aku makan kalau ke rumahnya.
Aku duduk manis, menjilati kaki sendiri, pura-pura tidak tahu apa-apa.
Padahal aku tahu satu hal:
Aku tidak mengambil apa pun.
Tanganku pendek. Aku malas. Dan motif bunga mawar ungu? Tidak cocok dengan buluku.
Aku lebih suka kain bau ikan.
Tapi tetap saja, setiap kali kata “hilang” disebut, manusia melirik ke arahku.
Diskriminasi kucing oren.
πΎπΎπΎ
Malam dan Suara Aneh
Malam hari, aku tidur di pojokan. Tiba-tiba aku dengar suara dari atas.
“Krak… krak…”
Aku langsung bangun. Kuping tegak.
“Itu bukan aku,” pikirku. “Aku tidak naik plafon. Aku takut tinggi.”
Tiba-tiba terdengar teriakan Kakak besar. Semua manusia panik.
Aku ikut panik, tapi tetap duduk. Prinsip kucing: panik boleh, lari jangan dulu.
Lalu muncul makhluk kecil berbulu, ekor panjang, bau keju.
TIKUS.
Dia membawa sesuatu.
Kain.
Bunga.
Ungu.
Oh.
Itu benda yang bikin manusia ribut.
Aku langsung paham semuanya.
πΎπΎπΎ
Manusia Akhirnya Mengerti (Agak)
“ITU SEMPAKKU!” teriak Nenek.
Tikus lari. Kain jatuh.
Aku mendengus.
Dasar tikus. Bikin repot satu rumah.
Manusia terdiam. Aku bisa merasakan keheningan itu. Sunyi. Berat. Campur bau tikus.
“Astaga,” kata Ayah.
“Pantesan,” kata Ibu.
“Bau keju,” kata Nenek.
Nah, akhirnya manusia pakai hidung juga.
πΎπΎπΎ
Keesokan Hari
Jemuran pindah ke belakang rumah. Semua kain dijepit dobel.
Aku mengamati dari jauh.
Aku tidak peduli soal sempak. Tapi aku senang satu hal:
Manusia akhirnya berhenti ribut.
Aku kembali tidur. Dunia kembali seimbang.
Satu hal yang masih aku pikirkan:
Kenapa manusia bisa ribut besar soal kain kecil, sementara waktu aku tidur di keyboard Kakak besar, aku langsung dimarahi?
Manusia memang aneh.
Aku Oyen.Aku saksi.
Aku tidak bersalah.
MIAW. πΎ
TAMAT.
















