Fly with your imajination

Showing posts with label Not A Witch. Show all posts
Showing posts with label Not A Witch. Show all posts

Wednesday, June 3, 2026

Not A Witch - BAB1

Sangat disarankan memberi kritik dan saran.


Main : Charlotte (Lottie) dan Nathan
Rate: T
Genre: Mist
WARNING: AU, OOC, OC, typo, alur GaJe cerita se-mau-gue.
Story by
MICKEY139


Bab 1 — Gadis yang Disebut Cenayang


***

Pukul enam tiga puluh pagi, koridor SMA Harapan Bangsa sudah dipenuhi siswa yang bercakap-cakap sebelum pelajaran dimulai. Suara tawa, langkah kaki, dan obrolan tentang tugas yang belum selesai memenuhi udara pagi yang sejuk. Namun suasana yang ramai itu perlahan mereda ketika seorang gadis berjalan melewati lorong utama sekolah.

Charlotte Ellise Gunawan atau yang biasa disebut Lottie berjalan dengan langkah tenang sambil membawa tas hitam sederhana di bahunya. Rambut hitam panjangnya tergerai rapi hingga pinggang, bergerak perlahan mengikuti langkahnya. Seragam sekolahnya selalu terlihat bersih dan rapi, seolah baru disetrika setiap pagi. Tatapannya lurus ke depan tanpa sedikit pun melirik orang-orang di sekitarnya.

Lalu seperti biasa, bisikan mulai terdengar.

“Itu dia.”

“Cewek dukun.”

“Dengar-dengar dia tahu kalau Pak Doni bakal jatuh dari tangga minggu lalu.”

“Iya, terus benar-benar kejadian.”

“Seram banget.”

Itu bukan hanya sekedar bisikan pelan, mereka seolah sengaja agar Lottie mendengar semuanya. Ingin melihat reaksi Lottie. Lalu mempermalukannya. Sayangnya Lottie tidak peduli. Karena baginya, pendapat orang lain adalah sesuatu yang tidak bisa dikendalikan. Dan lagi ia juga malas karena ujung-ujungnya ia sendiri yang akan kena dampak buruknya.

Lottie ingat, dulu, saat pertama kali masuk sekolah ini, orang-orang menganggapnya anak yang sangat pintar. Nilainya selalu sempurna. Ia bisa menjawab pertanyaan guru bahkan sebelum guru selesai menjelaskan. Namun, semakin lama, semakin banyak kejadian yang membuat siswa lain merasa tidak nyaman.

Seperti ketika ada seorang siswa kehilangan dompet, tidak ada yang tahu ke mana dompet itu jatuh atau siapa yang mengambilnya. Tetapi, Lottie berhasil menebak siapa pelakunya hanya dengan melihat bekas lumpur di sepatu beberapa siswa.

Ada lagi ketika terjadi kebocoran soal ujian, berkat analisis dan kecerdasanya, Lottie berhasil menemukan pelaku dalam waktu kurang dari satu jam.

Lalu ada juga saat seorang guru mengalami kecelakaan kecil di tangga sekolah, sebelum insiden itu Lottie sudah memperingatkannya, tetapi guru itu tidak mendengarkan.

Semua itu bukan karena kemampuan supranatural yang ia miliki. Lottie bahkan tidak pernah merasakan hal-hal seperti ketakutan di tempat gelap yang sepi. Atau merasakan hawa keberadaan makhluk astral di dekatnya. Ia hanya memperhatikan hal-hal kecil yang sering diabaikan orang lain lalu menganalisanya sebelum menyimpulkan. Namun, kebanyakan orang lebih suka percaya pada hal-hal mistis daripada menerima kenyataan bahwa seseorang bisa berpikir jauh lebih tajam dari mereka.

Tiba di depan kelas, Lottie disambut dengan kebisingan teman sekelasnya. Mereka bercanda ria dan tak menganggapnya. Meski begitu, Lottie juga tidak peduli dan langsung melangkah menuju bangku favoritnya di dekat jendela paling belakang. Posisi itu benar-benar cocok untuk dirinya yang penyendiri. Lagipula, bangku itu bisa membuatnya melihat seluruh kelas sekaligus menghindari percakapan yang tidak perlu.

Ia meletakkan tas di samping kursi lalu mengeluarkan buku-buku pelajaran dan menyusunnya di sisi meja. Kemudian mengambil sebuah buku tebal tentang keamanan jaringan komputer. Dan mulai membacanya.

Itu adalah rutinitas biasa yang ia lakukan ketika menunggu guru atau jam pelajaran berikutnya. Dan, tidak ada yang aneh. Hanya saja sebagian siswa SMA biasa merasa membaca buku keamanan siber saat jam kosong tentu bukan sesuatu yang umum.

Ia baru membuka beberapa halaman ketika suara teman-teman sekelasnya mulai membahas tema yang sama.

“Aku dengar hari ini ada murid pindahan!”

“Beneran?”

“Cowok atau cewek?”

“Katanya cowok!”

Percakapan itu berlangsung lebih lama karena wali kelasnya belum masuk. Meski begitu, Lottie tidak tertarik dan tetap membaca. Baginya mendapatkan informasi tambahan lebih menarik ketimbang mengetahui siapa murid baru itu. Toh, orang datang dan pergi dalam hidupnya setiap saat. Jadi, tidak ada alasan untuk peduli.

Beberapa menit kemudian wali kelas masuk sambil membawa beberapa berkas. Lottie menyimpan bukunya di dalam laci dan fokus pada wali kelasnya.

“Selamat pagi semuanya.” sapanya.

“Selamat pagi, Bu.” semua siswa serempak menjawab termasuk Lottie meski dengan suara pelan yang terdengar malas-malasan.

“Hari ini kita kedatangan siswa baru. Tolong bantu dia beradaptasi dengan lingkungan sekolah.”

"Baik, Bu."

Wali kelasnya tersenyum kemudian menyuruh murid baru itu masuk.

Setelah mengatakan itu, pintu kelas terbuka. Seorang laki-laki masuk dengan senyum lebar di wajahnya. Tubuhnya cukup tinggi untuk ukuran siswa SMA. Rambut hitam pendeknya sedikit berantakan namun justru membuatnya terlihat santai. Ia berdiri di depan kelas dengan percaya diri yang membuat sebagian besar siswa langsung memperhatikannya.

“Halo semuanya!” katanya ceria.

Beberapa siswa tertawa. Sebagian lainnya langsung menyambut ramah.

“Namaku Nathan. Senang bertemu kalian. Mulai hari ini aku akan belajar di sini, jadi mohon bantuannya.”

Dalam hitungan detik suasana kelas berubah menjadi jauh lebih hangat. Nathan tampak seperti tipe orang yang bisa berteman dengan siapa saja. Ia berbicara tanpa canggung. Tertawa tanpa dibuat-buat. Dan, terlihat nyaman bahkan di lingkungan yang benar-benar baru.

Nathan memperhatikan seisi kelas, senang dengan sambutan teman sekelasnya. Namun, pandangannya berhenti pada satu sosok di pojok belakang. Seorang gadis yang bahkan tidak mengangkat kepala sejak ia masuk. Ia lebih tertarik melihat pohon di balik jendela.

Nathan sedikit penasaran. Biasanya orang setidaknya akan melirik murid baru. Namun, gadis itu sama sekali tidak tertarik. Seolah kehadirannya tidak berarti apa pun.

Saat jam istirahat tiba, Nathan langsung dikelilingi banyak siswa. Mereka mengajaknya berkeliling sekolah, memperkenalkan kantin, lapangan olahraga, hingga klub-klub ekstrakurikuler yang ada.

Nathan menikmati perhatian mereka. Ia memang mudah bergaul. Namun di tengah keramaian itu, ia beberapa kali melirik ke arah pojok kelas.

Lottie masih duduk di tempat yang sama. Sendirian. Tetap mempertahankan posisinya bedanya gadis itu tengah membaca buku seolah orang-orang yang ada di sekelilingnya hanya debu-debu halus kecil yang tidak memengaruhinya.

Gadis itu idak makan bersama teman. Tidak mengobrol. Tidak memainkan ponsel. Ia betul-betul menganggap seolah seluruh dunia di sekitarnya tidak ada.

Rasa penasaran Nathan akhirnya menang. Tanpa menghiraukan yang lain, ia berjalan menuju meja Lottie.

“Hai.” sapanya.

Lottie mengangkat pandangan dari bukunya.

“Hai.” jawabnya datar dan kembali menatap buku di depannya.

“Gue Nathan.”

“Tahu.” sekali lagi Lottie menjawabnya dengan nada datar.

Nathan tersenyum.

“Lottie, kan?”

“Iya.”

Nathan hampir tertawa. Percakapan itu terasa seperti berbicara dengan tembok yang sangat sopan.

“Mereka bilang, Lo dukun.”

Lottie menutup bukunya perlahan. Untuk pertama kalinya ia benar-benar menatap Nathan. Tatapan matanya tenang. Dingin. Namun, tidak mengintimidasi.

“Hm.”

“Emang lo beneran bisa lihat masa depan?”

“Tidak.”

“Tapi, mereka bilangnya begitu.”

“Karena mereka malas berpikir.”

Nathan terdiam beberapa detik sebelum tertawa kecil. Entah kenapa jawaban itu terdengar masuk akal.

Sebelum ia bisa melanjutkan percakapan, Lottie sudah kembali membuka bukunya. Jelas sekali kalau pembicaraan mereka telah selesai menurut versinya.

Nathan akhirnya menyerah dan kembali ke kelompok teman barunya. Tetapi, sekarang ia malah semakin penasaran terhadap gadis itu.

Jam pelajaran ketiga dimulai ketika hari sudah sore. Sebenarnya pelajaran itu lebih seperti kegiatan ekstrakulikuker karena hanya beberapa orang saja yang lakukan. Itu adalah pelajaran olahraga dan dilakukan di lapangan basket. Dan sebagai siswa atletis, Nathan langsung menarik perhatian semua orang.

Ia berlari cepat. Mendrible bola seperti langkah ringan yang dengan mudah menghindari lawan. Beberapa poin tercetak dengan cepat. Ia benar-benar berbakat dalam olahraga. Beberapa siswa bahkan mulai mengajaknya masuk tim basket sekolah.

Sementara dari pinggir lapangan, Lottie memperhatikan. Bukan karena tertarik. Melainkan karena ia memang selalu mengamati.

Semua orang. Entah gerakan mereka atau kebiasaan. Dan, ada sesuatu yang menarik perhatiannya.

Nathan sesekali menyentuh pergelangan kaki kirinya. Tidak sering. Hanya beberapa kali. Namun, cukup untuk menunjukkan bahwa bagian itu belum benar-benar pulih dari cedera.

Ia juga mengubah posisi pijakan saat mendarat setelah melompat. Tanda klasik seseorang yang tanpa sadar melindungi bagian tubuh yang pernah cedera.

Lottie mengalihkan pandangan. Menghela napas. Lagi-lagi tanpa sadar ia menganalisis. Dan, itu adalah informasi yang tidak begitu penting.

Beberapa saat kemudian bel pulang sekolah berbunyi. Para siswa mulai meninggalkan kelas.

Nathan sedang bercanda dengan beberapa teman ketika tiba-tiba suara pelan terdengar dari belakangnya.

“Nathan.”

Nathan menoleh. Namun, ia hanya melihat Lottie yang berdiri sambil memasukkan buku ke dalam tas. Tidak seperti sedang menyapanya.

“Ya? Lo manggil?

Lottie tidak mendongak untuk menatapnya, ia tetap memasukkan perlengkapannya di dalam tas. Sebenarnya ia juga sedang merutuki mulutnya. Padahal ia ingin pulang dengan tenang, tapi mulutnya malah bertindak sebaliknya.

“Besok jangan ikut pertandingan basket.” katanya dengan sikap cuek.

Nathan berkedip bingung.

“Kenapa?”

“Kakimu bakal tambah cedera.”

Suasana sekitar langsung menjadi hening. Beberapa siswa yang mendengar percakapan itu saling pandang. Sementara Nathan malah tertawa kecil.

“Serius?”

Lottie mengangguk. Perlengkapannya sudah ia masukkan semua di dalam tas. Pandangannya kemudian terangkat menatap mata coklat madu milik Nathan.

“Ligamen kirimu belum pulih.” jelasnya masih dengan nada cuek.

Nathan terdiam. Bagaimana bisa gadis itu tahu?

Ia memang pernah mengalami cedera saat pertandingan di sekolah lamanya beberapa bulan lalu. Namun, hampir tidak ada yang mengetahui itu.

“Ternyata lo beneran dukun, yah?” tanyanya setengah bercanda.

“Tidak.”

“Terus? Dari mana lo tahu?”

“Langkahmu berbeda setiap kali mendarat setelah melompat.”

Hanya dengan kalimat singkat itu, Nathan tidak tahu harus menjawab apa. Ia takjub sekaligus heran dengan pengamatan gadis itu. Tidak ada orang yang pernah menegur atau memberinya saran hanya dengan pengamatan singkat seperti Lottie.

Sementara Lottie tanpa mengatakan apapun lagi, sudah berbalik dan pergi meninggalkan kelas. Di belakangnya, bisikan-bisikan kembali mulai terdengar lagi.

Seram…”

Kata gue juga apa.

Dia beneran dukun.”

Namun, Lottie memilih untuk mengabaikannya. Seperti biasa. Karena baginya, hidup akan jauh lebih mudah jika tidak terlalu mempedulikan manusia lain.

Sayangnya, ia belum tahu bahwa dalam beberapa hari ke depan, sebuah kasus hilangnya siswa akan memaksanya keluar dari kehidupan tenang yang selama ini ia pertahankan.

Dan untuk pertama kalinya, dirinya akan menjadi pusat perhatian seluruh sekolah.

🌫🌫🌫🌫
Mickey139

SEBELUMNYA CH LENGKAP SELANJUTNYA

Share:

Not A Witch - Prolog 2 - Lottie

Sangat disarankan memberi kritik dan saran.


Main : Charlotte (Lottie) dan Nathan
Rate: T
Genre: Mist
WARNING: AU, OOC, OC, typo, alur GaJe cerita se-mau-gue.
Story by
MICKEY139


Prolog Lottie: Gadis yang Disebut Cenayang


***

Semua orang mengira Lottie adalah cenayang.

Mereka mengira gadis pendiam itu bisa melihat masa depan.

Tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya Lottie hanya melihat sesuatu yang tidak diperhatikan orang lain.

Jejak sepatu yang basah.

Pola kebiasaan seseorang.

Perubahan ekspresi wajah.

Jam tangan yang tiba-tiba tidak dipakai.

Sisa lumpur pada ujung celana.

Hal-hal kecil yang bagi kebanyakan orang tidak berarti apa-apa.

Namun bagi Lottie, potongan-potongan kecil itu adalah jawaban.

Dan terkadang…

Jawaban yang ditemukan terlalu cepat justru membuat orang lain ketakutan.

Seperti hari ini.

Lottie berdiri di tepi sungai sambil menatap kerumunan polisi.

Garis kuning pembatas telah dipasang.

Beberapa petugas sedang mengangkat sesuatu dari semak-semak.

Sebuah kantong jenazah.

Tubuh seorang siswa SMA yang dilaporkan hilang tiga hari lalu.

Para petugas belum mengumumkan identitas korban.

Namun Lottie sudah mengetahuinya sejak kemarin malam.

Bukan karena ia bisa melihat masa depan.

Melainkan karena ia menemukan pola yang tidak dilihat siapa pun.

Sayangnya…

Orang-orang tidak peduli dengan penjelasan semacam itu.

Mereka hanya melihat satu hal.

Lottie selalu berada di tempat mayat ditemukan.

Dan itu membuat mereka takut.

Beberapa meter di belakangnya terdengar suara.

“Hei.”

Lottie menoleh.

Seorang laki-laki berdiri sambil membawa tas sekolah di pundaknya.

Rambut hitamnya berantakan diterpa angin.

Senyumnya terlihat santai.

Nathan.

Murid pindahan yang baru masuk seminggu lalu.

Satu-satunya orang yang masih berani berbicara padanya.

“Kau tahu mereka sedang membicarakanmu lagi?” tanya Nathan.

“Tahu.”

“Dan kau tidak marah?”

“Tidak.”

Nathan menghela napas.

“Aku tidak mengerti bagaimana kau bisa setenang itu.”

Lottie kembali menatap sungai.

“Karena marah tidak mengubah apa pun.”

Nathan terdiam.

Jawaban itu terdengar sangat khas Lottie.

Dingin.

Singkat.

Tapi entah kenapa selalu masuk akal.

Beberapa saat kemudian Nathan bertanya,

“Kau bukan pelakunya, kan?”

Lottie meliriknya.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ekspresinya sedikit berubah.

Bukan marah.

Bukan kesal.

Melainkan heran.

“Kenapa bertanya begitu?”

Nathan mengangkat bahu.

“Karena semua orang menganggapmu pembunuh.”

“Lalu?”

“Aku tidak percaya.”

“Kau bahkan tidak mengenalku.”

Nathan tersenyum.

“Benar.”

“Lalu kenapa percaya?”

Nathan memandang ke arah sungai.

“Aku cuma punya firasat.”

Lottie menghela napas pelan.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama…

Ada seseorang yang tidak memandangnya seperti monster.

Dan entah kenapa…

Perasaan itu terasa aneh.

Sangat aneh.

Karena selama ini ia sudah terbiasa sendirian.

Sementara jauh di tempat lain…

Seseorang sedang memperhatikan mereka.

Seseorang yang tersenyum melihat nama berikutnya dalam sebuah daftar.

Daftar yang berisi calon korban berikutnya.

Dan permainan baru saja dimulai.

🌫🌫🌫🌫
Mickey139

SEBELUMNYA CH LENGKAP SELANJUTNYA
Share:

Friday, February 5, 2021

Not A Witch : Prolog

Sangat disarankan memberi kritik dan saran.


Main : Charlotte (Lottie) dan Nathan
Rate: T
Genre: Mist
WARNING: AU, OOC, OC, typo, alur GaJe cerita se-mau-gue.
Story by
MICKEY139


BAB 000 : PROLOG

Gadis itu berlari. Sepatunya yang berwarna hitam menyusup di sela-sela rerumputan basah. Aroma tanah dan rumput masuk ke indra penciuman, tetapi tak membuatnya tenang sama sekali. Sesekali ia berbalik, memastikan sang pengejar. Tidak ada. Meski begitu, tak juga membuatnya tenang. Sampai kakinya tersendat di sepatu miliknya dan ia terjatuh.
 
Cepat-cepat ia bangkit, melihat sekeliling sekali lagi. Hanya ada pohon yang menjulang tinggi seperti ingin menelannya hidup-hidup. Langit mulai meredup. Udara dingin sudah mulai menusuk kulit, gadis itu kembali berlari.
 
Rambut hitamnya yang panjang berkibar, sebagian menempel di wajah. Sesekali ia mengusap matanya ketika rambut itu menempel dan menghalangi penglihatan. Keringatnya sudah menetes dan membasahi seragam sekolah. Nafasnya pun berat karena terus berlari tanpa istirahat.
 
Ia berhenti berlari ketika rasa lelah menghantam tubuhnya. Menyanggah tubuh di salah satu pohon kemudian mengatur nafasnya secara perlahan. Ia kembali mengangkat kepala dan memastikan sekelilingnya. Pengejar itu masih tidak terlihat.
 
Lalu suara tapak sepatu beradu rumput samar-samar terdengar, membuat gadis itu menegang. Jantungnya kembali berpacu. Ia menjulurkan kepalanya untuk melihat ke belakang, tetapi sang pengejar tak terlihat. Akan tetapi, ketika ia kembali berbalik ke depan, jantungnya nyaris berhenti berdetak. Rupanya sang pengejar sudah ada di hadapannya. Menyeringai. Berjalan pelan ke arahnya.
 
“To … tolong lepaskan aku …” pinta gadis itu ketakutan.
 
Orang berjubah yang ada di hadapan gadis itu tak menyahut. Kaki-kakinya yang jenjang terus melangkah ke depan. Jubah yang ia pakai menutupi hampir sebagian wajahnya, tetapiseringai yang muncul di bibir orang itu tetap terlihat dan menakutkan.
 
Gadis itu melangkah mundur. Pelan mengikuti langkah si pengejar lalu secepat mungkin melangkahkan kakinya menjauh. Ia berlari. Namun ketika ia berbalik untuk melihat sang pengejar, orang itu tak bergeming dan hanya memperhatikan dirinya menjauh. Tanpa membuang waktu, gadis itu semakin mempercepat langkahnya. Melewati semak yang menggores kulit, batu-batu kecil yang membuatnya terantuk dan hampir jatuh, lalu ia melihat cahaya dari ujung jalan. Dan tinggal beberapa meter lagi ia akan sampai.


sumber gambar : pinterest

 “Pleasepleaseplease ….”
 
“Padahal aku sudah berbaik hati membiarkanmu berlari duluan tadi.”
 
Gadis itu terlonjat, jantungnya seperti mau meledak saat orang berjubah itu tiba-tiba muncul di kegelapan di hadapannya. Berjalan dengan langkah pelan yang pasti.
 
Gadis itu melirik ke segala arah berusaha mencari jalan agar ia sampai ke ujung jalan. Namun, ketika ia melangkah, kakinya tersandung akar yang mencuat di permukaan tanah. Lututnya terbentur batu dan membuatnya kesulitan bangkit.
 
“Tolong biarkan aku pergi.” Sekali lagi gadis itu memohon. Ia menangis ketakutan. Seluruh tubuhnya gemetar. Namun, orang berjubah itu tak menghiraukan, ia hanya mengamati gadis itu dengan kejam dan menikmati tiap detik siksaan ketakutan yang ia berikan.
 
“Sebenarnya kau siapa? Kenapa aku?” Gadis itu menatap orang itu dengan sorot benci juga marah. “Apa salahku?!” teriaknya penuh kebencian. Menggema di sela kesunyian di tempat itu. Orang berjubah itu berhenti melangkah. Kepalanya terlihat miring.
 
“Salahmu?”
 
Suara orang berjubah itu tak jelas karena alat pengubah suara yang ia pakai.
 
“Apa kau sungguh-sunggu tidak tahu apa salahmu?”
 
Gadis itu menggeleng, dengan air mata yang terus mengalir. Ia sangat ketakutan, tetapi bangkit untuk berlari dari sana, kakinya sudah tak sanggup.
 
“Sungguh?”
 
Kembali gadis itu menggeleng. Ia beringsut mundur, berusaha menyeret tubuhnya menjauh sementara orang itu sudah berada tepat di depannya. Berjongkok dan menatap gadis itu dengan sorot mata yang dingin. Ia kemudian mengeluarkan selembar foto lalu menyodorkan pada gadis itu.
 
“Apa sekarang kau masih tidak mengetahui apa salahmu?”
 
Gadis itu semakin terisak ketika melihat gambar dalam foto itu.
 
“Ku, kumohon biarkan aku pergi.” katanya mengiba pada orang berjubah itu. Lalu memohon. “Apapun yang kau inginkan akan kuberi, tolong lepaskan aku.”
 
“Apapun?”
 
Gadis itu mengangguk. “I, iya. Apapun.”
 
Kemudian orang berjubah itu menyeringai lalu mendekatkan bibirnya di telinga gadis itu. “Kalau begitu, aku ingin kau menebus dosamu di neraka.”
 
Lalu mata gadis itu terbelalak saat rasa sakit menghujam pahanya. Darah menetes.
 
“Aaaa ...” Gadis itu berteriak dengan suara penuh derita. Air matanya semakin deras keluar, menetes di atas darah yang ada permukaan tanah.
 
“Apa kau ingat bagaimana dulu ia mengiba pada kalian untuk berhenti?”
 
Gadis itu menggeleng. “Bukan. Bukan aku. Aku tidak melakukan apapun.”
 
Orang berjubah itu sekali lagi menancapkan pisaunya di tubuh gadis itu.
 
“Aaaa ….”
 
“Kau pikir, membiarkan dan menertawakan dia saat teman-temanmu menyiksanya berarti kau tidak melakukan apapun? Kau bahkan menyebarkan foto memalukannya dan kau bilang tidak melakukan apapun?”

Sekali lagi orang berjubah itu menusukkan pisaunya dan kembali membuat gadis itu berteriak.
Tetapi, hanya sampai di situ saja teriakan gadis itu yang berhasil lolos, karena orang berjubah itu kembali menghujamkan pisaunya tepat di tenggorokan gadis itu sampai tembus ke belakang.
 
Orang berjubah itu kemudian menarik belatinya dan berdiri. Gadis itu sudah terkulai tak sadar di atas tanah. “Harusnya dulu kau pikirkan sebelum bertindak.” Lalu ia kembali menyeringai, “Nah sekarang giliran siapa lagi?” Kemudian membuka buku berukuran A5 bersampul panda. Buku diary lusuh yang lembarannya sudah menguning karena terkena air atau dimakan usia.

Bersiul pelan ketika membaca dan mencocokkan di gambar ponsel yang baru saja ia keluarkan dari sakunya. “Jadi, selanjutnya giliran dia,” seringainya sebelum berlalu pergi meninggalkan jasad gadis itu begitu saja di sana.

 

copyright philly077

Mickey139
....


Share:
Copyright © 2014 - SUKA SUKA MICKEY | Powered by Blogger Design by ronangelo | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com